Debut Bersejarah Yordania di Piala Dunia: Perjalanan 500 Mil Suporter Setia
Baca dalam 60 detik
- Ratusan suporter Yordania melakukan perjalanan darat sejauh 500 mil dari San Diego ke San Jose untuk menyaksikan debut timnas di Piala Dunia.
- Komunitas diaspora Yordania di AS, yang hanya berjumlah sekitar 120.000 jiwa, menunjukkan dukungan luar biasa dengan konvoi mobil dan atribut tradisional.
- Meski berada di grup berat bersama Argentina dan Aljazair, semangat suporter tak surut—momen ini dinilai sebagai kebanggaan nasional yang menyatukan warga di dalam dan luar negeri.
Ratusan suporter Yordania menempuh perjalanan darat sejauh 500 mil dari San Diego ke San Jose, California, untuk merayakan debut tim nasional mereka di Piala Dunia melawan Austria. Dengan konvoi mobil yang dihiasi bendera merah khas Yordania, mereka berhenti sejenak di Los Angeles sebelum akhirnya bergabung dengan komunitas Yordania di kawasan Teluk San Francisco. Sorak-sorai, nyanyian, dan penghormatan kepada Raja Abdullah II mewarnai area luar stadion kandang San Francisco 49ers.
Bagi banyak diaspora Yordania di Amerika Serikat, momen ini adalah puncak dari penantian panjang. Rashed Kanawi, mahasiswa IT yang mengenakan syal tradisional 'shemagh', mengaku meneteskan air mata saat timnya lolos setahun lalu. “Jujur, hati saya hancur saat kalah dari Uruguay di play-off kualifikasi 2014,” kenangnya. Kekalahan agregat 5-0 itu kini terbayar lunas. “Semua orang di sini mewakili negaranya dengan cara terbaik. Lihat saja, semua pakai shemagh. Yang saya pakai ini gaya Badui,” ujarnya.
Menurut sensus 2020, komunitas Yordania di AS hanya sekitar 120.000 jiwa. Namun, jumlah itu tak membatasi antusiasme. Hussien Eid, seorang ayah berusia 45 tahun, datang dari Chicago bersama putranya yang berusia 13 tahun. “Ini mimpi yang menjadi kenyataan. Kami sudah menunggu lama. Kini Yordania resmi berlaga, dan kami mendukung penuh dari A sampai Z,” katanya. Eid menambahkan, keberhasilan ini membahagiakan 11 juta warga Yordania di seluruh dunia.
Di bawah asuhan pelatih asal Maroko, Jamal Sellami, Yordania menjelma sebagai kekuatan sepak bola Arab. Capaian final Piala Asia 2023 dan Piala Arab 2025 menjadi bukti. Namun, di grup yang juga dihuni Argentina dan Aljazair, peluang lolos ke fase gugur tipis. “Kami butuh keajaiban kecil,” aku salah satu suporter. Meski begitu, dukungan tak akan surut. Mona Naffa, pekerja pariwisata asal Yordania, merasa bangga bisa menyaksikan sejarah. “Yordania kecil tapi perkasa. Ini sangat berarti bagi negara kami,” ujarnya.
Bagi Indonesia, kisah Yordania ini relevan. Timnas Indonesia juga tengah berjuang menembus Piala Dunia, dan semangat diaspora bisa menjadi motor penggerak. Dukungan komunitas di luar negeri, seperti yang ditunjukkan warga Yordania di AS, membuktikan bahwa sepak bola mampu menyatukan bangsa lintas batas. Pertanyaannya, mampukah Indonesia meniru jejak Yordania—kecil namun perkasa—di panggung dunia?



