Renard Ambil Alih Timnas Tunisia: Misi Bangkit dari Kekalahan Telak
Baca dalam 60 detik
- Herve Renard resmi menukangi Tunisia setelah Sabri Lamouchi dipecat usai kekalahan 5-1 dari Swedia di laga perdana Piala Dunia.
- Pelatih asal Prancis itu membawa pengalaman mentereng, termasuk kemenangan atas Argentina bersama Arab Saudi di Piala Dunia 2022.
- Laga selanjutnya melawan Jepang pada Minggu depan menjadi ujian awal bagi Renard untuk membangkitkan semangat skuad Tunisia.
Herve Renard, pelatih kawakan asal Prancis, resmi mengambil alih kursi kepelatihan Timnas Tunisia setelah pendahulunya, Sabri Lamouchi, dipecat menyusul kekalahan telak 5-1 dari Swedia pada laga pembuka Piala Dunia. Renard menyebut tantangan ini sebagai motivasi besar, bukan beban.
Dalam konferensi pers di Monterrey, Meksiko, Selasa (16/6), Renard mengaku tidak ragu menerima tawaran Federasi Sepak Bola Tunisia. โSaat federasi menghubungi saya, saya tidak ragu sedetik pun. Ini tantangan yang tidak mudah, tapi memotivasi,โ ujarnya. Ia tiba dari Paris dan langsung memimpin sesi latihan pada sore hari.
Pemecatan Lamouchi menjadi korban pertama pelatih di turnamen ini. Sebelum dipecat, Lamouchi mengakui bahwa terlalu banyak kesalahan yang menyebabkan kekalahan menyakitkan tersebut. Swedia berhasil membongkar pertahanan Tunisia dengan mudah, memperlihatkan kelemahan fundamental di lini belakang.
Renard, 57 tahun, bukan nama asing di pentas sepak bola Afrika. Dua kali juara Piala Afrika bersama Zambia dan Pantai Gading, ia membawa pengalaman melimpah. Prestasi terbesarnya adalah saat menukangi Arab Saudi di Piala Dunia 2022, ketika timnya menaklukkan Argentina yang akhirnya menjadi juara. Setelah itu, ia melatih tim putri Prancis, lalu kembali ke Arab Saudi dan membantu mereka lolos ke Piala Dunia ketiga berturut-turut.
Pertemuan singkat dengan skuad Tunisia pada Selasa sore dinilai Renard berjalan positif. โSaya hanya bilang, kita harus angkat kepala, maju terus. Kalian di sini mewakili negara, Tunisia. Itu kehormatan, itu kewajiban. Kita harus tampil lebih baik dari hasil pertandingan pertama,โ tuturnya. Ia juga bersimpati pada Lamouchi yang ia kenal secara pribadi, dan menilai bahwa pelatihlah yang menjadi kambing hitam ketika performa tim buruk.
Laga berikutnya Tunisia di Grup F adalah melawan Jepang, yang pada laga perdana bermain imbang 2-2 dengan Belanda. Renard, yang sering berhadapan dengan Jepang, mengakui kualitas tim Samurai Biru. โSaya tahu betul kualitas tim ini, tapi saat ini kami harus fokus pada diri sendiri. Kami masih punya beberapa hari untuk bersiap,โ katanya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Renard memberikan pelajaran tentang pentingnya manajemen krisis dan adaptasi cepat. Di tengah tekanan, pelatih berpengalaman mampu membalikkan situasi. Pertanyaan besarnya: bisakah Renard mengulangi keajaiban seperti saat bersama Arab Saudi? Atau justru Jepang akan menjadi batu sandungan pertama?



