Gempa Dangkal Magnitudo 4,2 Guncang Tahuna, Sulawesi Utara: Waspada Gempa Susulan
Baca dalam 60 detik
- Gempa bumi dangkal magnitudo 4,2 mengguncang wilayah Tahuna, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Sabtu siang dengan pusat di kedalaman 5 kilometer.
- BMKG mencatat episenter gempa berada 68 kilometer timur laut Tahuna, dan data awal masih dapat berubah seiring kelengkapan informasi.
- Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada terhadap potensi gempa susulan, mengingat karakteristik gempa dangkal yang kerap diikuti guncangan lanjutan.
Gempa bumi dangkal kembali mengguncang wilayah timur Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan gempa berkekuatan magnitudo 4,2 terjadi di perairan timur laut Tahuna, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, pada Sabtu (13/6/2026) siang. Guncangan ini menjadi pengingat akan tingginya aktivitas seismik di kawasan yang berada di jalur pertemuan lempeng tektonik tersebut.
Berdasarkan rilis resmi BMKG, gempa terjadi pada pukul 14:10:02 WIB dengan pusat gempa (episenter) berada di koordinat 3,95 Lintang Utara dan 126,00 Bujur Timur. Titik tersebut terletak sekitar 68 kilometer arah timur laut Tahuna. Yang menjadi perhatian utama adalah kedalaman gempa yang hanya mencapai 5 kilometer, menjadikannya gempa dangkal yang getarannya lebih terasa di permukaan.
Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangan sebelumnya menekankan bahwa gempa dangkal seperti ini umumnya disebabkan oleh aktivitas sesar aktif di dasar laut. Meski magnitudonya tidak besar, kedalaman yang rendah membuat guncangan terasa signifikan di daerah sekitar episenter. BMKG juga mengeluarkan disclaimer bahwa data yang dirilis masih bersifat sementara dan dapat mengalami perubahan seiring dengan kelengkapan data dari stasiun seismograf.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa akibat gempa tersebut. Namun, guncangan dilaporkan dirasakan oleh sebagian warga di pesisir Tahuna. Masyarakat setempat yang terbiasa dengan aktivitas gempa di kawasan ini umumnya sudah memiliki kewaspadaan tinggi. BMKG mengimbau agar warga tetap tenang dan tidak terpancing oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Gempa dangkal di Sulawesi Utara bukanlah fenomena langka. Wilayah ini berada di kawasan pertemuan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Pasifik, serta dikelilingi oleh beberapa sesar aktif seperti Sesar Sangihe. Sepanjang tahun 2026, BMKG mencatat puluhan gempa kecil hingga menengah terjadi di sekitar Laut Maluku dan Sulawesi Utara. Setiap gempa dangkal berpotensi memicu gempa susulan, meskipun biasanya berkekuatan lebih kecil.
Bagi pembaca di Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah rawan gempa, kejadian ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan. Pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat diharapkan terus mengedukasi masyarakat tentang langkah-langkah evakuasi mandiri dan mitigasi bencana. Gempa dangkal seperti ini juga menjadi pengingat bahwa infrastruktur bangunan di zona seismik harus memenuhi standar tahan gempa untuk meminimalkan risiko.
Ke depan, BMKG akan terus memantau aktivitas seismik di sekitar Tahuna. Pertanyaan yang mengemuka adalah apakah gempa ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas tektonik yang lebih besar atau sekadar pelepasan energi rutin. Masyarakat diimbau untuk selalu merujuk pada informasi resmi BMKG dan tidak mudah percaya pada isu-isu yang tidak berdasar.



