Stasiun Kereta Maut Perang Dunia II Muncul Kembali di Thailand Setelah 40 Tahun Tenggelam
Baca dalam 60 detik
- Stasiun Nithe, bagian dari jalur kereta paksa era Perang Dunia II, muncul ke permukaan setelah waduk PLTA Vajiralongkorn dikuras untuk perawatan.
- Tim peneliti berlomba mendokumentasikan situs bersejarah itu sebelum musim hujan dan pengisian kembali waduk pada Agustus mendatang.
- Jalur kereta sepanjang 415 km itu menewaskan lebih dari 87.500 pekerja paksa, termasuk ribuan tawanan perang Sekutu, dan kini menjadi objek wisata sejarah.

Stasiun Nithe, salah satu titik penting dalam jalur kereta api paksa era Perang Dunia II yang dikenal sebagai 'Kereta Maut', kembali muncul ke permukaan di Thailand setelah lebih dari empat dekade terendam air. Kemunculan ini terjadi setelah Waduk Vajiralongkorn dikuras untuk keperluan perawatan rutin, membuka akses bagi para peneliti dan keturunan korban untuk menyaksikan langsung peninggalan kelam sejarah Asia Tenggara.
Stasiun yang terletak di Provinsi Kanchanaburi ini merupakan depot utama pada jalur sepanjang 415 kilometer yang menghubungkan Siam (kini Thailand) dengan Burma (Myanmar). Jalur tersebut dibangun secara paksa oleh Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II dengan mengerahkan sekitar 60.000 tawanan perang Sekutu dan ratusan ribu pekerja paksa asal Asia. Lebih dari 12.500 tawanan dan 75.000 pekerja tewas selama pembangunan, menjadikannya salah satu proyek konstruksi paling mematikan dalam sejarah.
Para peneliti kini berlomba mengumpulkan data dan dokumentasi sebelum air kembali menenggelamkan situs tersebut. Pengisian kembali waduk dijadwalkan selesai pada Agustus mendatang, ditambah ancaman musim hujan yang akan mempercepat proses tersebut. Andrew Snow, peneliti dari Thailand-Burma Railway Centre yang ayahnya menjadi tawanan dan dipaksa bekerja di jalur itu, menyatakan momen ini menjadi kesempatan langka untuk melakukan survei guna memberikan informasi kepada keluarga korban di masa depan.
Martyn Fryer, seorang peneliti independen asal Australia, terbang jauh-jauh untuk melihat langsung stasiun yang kakeknya ikut membangun dan tewas sebagai tawanan. Ia mengaku ingin melihat sendiri infrastruktur yang selama ini terendam air. Fryer telah tiga kali mengunjungi lokasi tersebut sebelumnya saat masih terendam sebagian.
Bagi Indonesia, kisah Kereta Maut memiliki resonansi tersendiri. Ribuan pekerja paksa asal Hindia Belanda, termasuk dari Indonesia, ikut menjadi korban dalam proyek tersebut. Data sejarah mencatat banyak romusha asal Jawa dan Sumatera yang dikirim ke Thailand dan Burma, dan sebagian besar tidak pernah kembali. Kemunculan kembali Stasiun Nithe menjadi pengingat akan penderitaan yang dialami para leluhur dan pentingnya pelestarian sejarah untuk generasi mendatang.
Saat ini, beberapa ruas jalur kereta tersebut masih berfungsi sebagai transportasi lokal dan menjadi daya tarik wisata. Pusat edukasi seperti Hellfire Pass Interpretive Centre terus berupaya menjaga ingatan kolektif tentang tragedi kemanusiaan ini. Seperti diungkapkan Michael Weber, wisatawan asal Jerman yang berkunjung ke Stasiun Thamkra Sae, "Berwisata memberi kesempatan untuk belajar tentang masyarakat dan budaya setempat. Dan bagian dari budaya adalah sejarah."
Dengan waktu yang terbatas, para peneliti berharap dapat mengungkap lebih banyak artefak dan data sebelum air kembali menutup situs. Pertanyaan besarnya, akankah temuan dari Stasiun Nithe mampu mengubah pemahaman kita tentang skala kekejaman proyek Kereta Maut dan memberikan penghormatan yang layak bagi para korban yang terlupakan?



