Ma'ruf Amin Desak Dialog Arab Saudi-Houthi, Tawarkan Empat Pilar Damai untuk Akhiri Konflik
Baca dalam 60 detik
- Wapres ke-13 Ma'ruf Amin mendesak Arab Saudi dan Houthi menghentikan eskalasi konflik yang mengancam stabilitas kawasan dan jalur perdagangan global.
- Melalui inisiatif Jembatan Dialog Empat Pilar, ia mengusulkan gencatan senjata, mediasi OKI, rekonsiliasi politik, dan zona bebas konflik di Bab el-Mandeb.
- Konflik ini berimplikasi langsung terhadap Indonesia, baik dari sisi stabilitas pasokan energi maupun sebagai negara Muslim terbesar yang siap mendorong perdamaian.

Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia, Ma'ruf Amin, menyerukan penghentian segera eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman, dengan menawarkan kerangka damai komprehensif yang disebut Jembatan Dialog Empat Pilar. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya aksi militer di sekitar Selat Bab el-Mandeb, yang tidak hanya mengancam nyawa warga sipil tetapi juga mengganggu jalur pelayaran internasional dan stabilitas ekonomi global.
Juru bicara Ma'ruf Amin, Masduki Baidlowi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas ketegangan yang kian memanas di kawasan penghubung Laut Merah dan Teluk Aden itu. Menurutnya, konflik berkepanjangan antarsesama muslim ini bukan saja merugikan pihak yang bertikai, melainkan juga menimbulkan dampak sistemik terhadap ekonomi, politik, hingga psikologi dunia Islam, termasuk Indonesia. โDarah dan kehormatan adalah hal yang suci. Sudah saatnya senjata diturunkan dan meja dialog digelar secara konstruktif,โ ujar Masduki mengutip pernyataan Ma'ruf Amin.
Bagi Indonesia, konflik di Yaman memiliki implikasi strategis yang tidak bisa diabaikan. Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu titik tersempit jalur perdagangan energi global; gangguan di sana berdampak langsung pada harga minyak dan gas yang pada akhirnya mempengaruhi inflasi dalam negeri. Selain itu, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kepentingan moral untuk mendorong penyelesaian damai di antara sesama negara Islam. Ma'ruf Amin menegaskan bahwa Indonesia siap mendukung setiap inisiatif perdamaian yang ditempuh kedua belah pihak.
Para analis menilai bahwa inisiatif ini datang di saat yang kritis. Sejak eskalasi terakhir, serangan terhadap kapal tanker di Bab el-Mandeb meningkat tajam, mengancam kelancaran distribusi energi global. Jika tidak segera dihentikan, konflik ini berpotensi memicu krisis rantai pasok yang lebih luas, terutama bagi negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia. โPerang tidak pernah melahirkan pemenang sejati, yang ada hanyalah kehancuran bagi generasi masa depan umat,โ tegas Masduki menyampaikan pesan Ma'ruf.
Ke depan, pertanyaan terbesar adalah apakah seruan ini akan mendapat sambutan dari pihak-pihak yang bertikai. Mengingat kompleksitas konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun, diperlukan dukungan internasional yang kuat untuk membawa semua pihak ke meja perundingan. Indonesia, dengan pengalaman dalam diplomasi damai, bisa memainkan peran fasilitator yang kredibel. Namun, tanpa kemauan politik dari Riyadh dan Sana'a, inisiatif empat pilar ini hanya akan menjadi catatan sejarah dari niat baik yang tidak ditindaklanjuti.



