Jack Draper dan Cedera Lengan yang Membuatnya Absen Panjang: Bisakah Sembuh Tanpa Operasi?
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Jack Draper kembali mundur dari turnamen karena nyeri tulang lengan, memperpanjang masa absennya yang sudah lebih dari setahun.
- Cedera bone bruising pada humerus memerlukan istirahat total; operasi justru memperparah kondisi dan tidak dianjurkan oleh ahli.
- Rekan senegara Draper yang mengalami cedera serupa berhasil pulih dan meraih hasil terbaik, memberi harapan bagi pemulihannya.

Petenis Inggris Jack Draper kembali menarik diri dari turnamen di Washington pada Senin lalu setelah merasakan nyeri pada lengan servisnya—sebuah kemunduran yang menambah panjang daftar absennya akibat cedera tulang lengan yang terus menghantuinya. Langkah ini sekaligus mengulang skenario serupa saat Wimbledon bulan lalu, di mana ia sebelumnya optimistis bisa tampil namun akhirnya mundur pada hari terakhir.
Draper, yang kini berusia 24 tahun, telah berjuang melawan bone bruising atau memar tulang di lengan kirinya selama lebih dari setahun. Dalam 12 bulan terakhir, ia hanya tampil dalam 14 pertandingan dan absen di tiga turnamen Grand Slam tahun ini. Akibatnya, peringkatnya anjlok ke batas 150 besar dunia, dan untuk tampil di US Open yang akan dimulai 30 Agustus, ia harus melewati babak kualifikasi atau bergantung pada wildcard.
Memar tulang, seperti dijelaskan oleh Prof. Amar Rangan, wakil presiden British Orthopaedic Association, adalah pendarahan internal di pusat tulang humerus—tulang panjang yang menghubungkan bahu dan siku. Tekanan dari pendarahan ini menyebabkan nyeri yang dalam dan tumpul, disertai keterbatasan gerak dan peradangan. Gerakan cepat dan hentakan saat servis membuat pemain tenis sangat rentan mengalami cedera ini.
Professor Rangan menegaskan bahwa operasi tidak hanya sia-sia tetapi juga kontraproduktif. "Satu-satunya cara menyembuhkan adalah istirahat. Tubuh harus memulihkan dan memperkuat tulang sendiri. Operasi hanya akan menjadi cedera tambahan," katanya. Ia menyebut pemulihan ini sebagai "perlombaan antara penyembuhan tulang dan tekanan baru yang diterimanya."
Namun, bukan berarti tidak ada harapan. Dua petenis Inggris lain, Arthur Fery dan Toby Samuel, pernah mengalami cedera yang sama dan berhasil melewatinya dengan hasil memuaskan. Fery, 24 tahun, menjadi semifinalis Wimbledon setelah bergulat dengan bone bruising sepanjang 2024 dan 2025. Sedangkan Samuel, 23 tahun, nyaris menembus 100 besar dunia setelah absen hampir setahun pada 2024. "Tidak ada waktu pasti atau obat ajaib untuk cedera ini," ujar Samuel. "Awalnya sulit bermain lagi, masih terasa sakit. Tapi saya melewatinya dan tidak pernah menyesal."
Draper sendiri telah mencoba berbagai cara: mengubah teknik servis menjadi platform serve untuk mengurangi beban lengan, meski justru membebani lututnya yang cedera di Barcelona. Ia juga semakin intensif menjalani terapi es, sauna, dan red light therapy. "Anda mulai mencari segala hal saat mengalami cedera seperti ini," ujar Draper. "Saya lebih memperhatikan tidur dan nutrisi. Saya harap pengalaman ini akan memperpanjang karier saya."
Kisah Draper mengingatkan pada tantangan cedera yang kerap dihadapi atlet Indonesia, seperti petenis muda yang harus melewati masa pemulihan panjang akibat overtraining. Di tengah minimnya fasilitas pemulihan canggih, banyak atlet Tanah Air hanya mengandalkan istirahat dan fisioterapi dasar. Kasus Draper menunjukkan bahwa bahkan dengan sumber daya terbaik, kesabaran tetap menjadi kunci utama.
Ke depan, Draper harus memutuskan apakah akan berlaga di US Open atau kembali menunda demi pemulihan total. Dengan tidak adanya jaminan wildcard, risiko memperparah cedera tetap mengintai. Akankah ia mengikuti jejak Samuel yang berani bermain walau masih nyeri, atau memilih jalan hati-hati seperti Fery? Pertanyaan itu yang akan menentukan masa depan karier petenis muda ini.



