Latihan Penanganan Korban Massal: Marinir RI-AS Uji Kesiapsiagaan Bencana di RIMPAC 2026
Baca dalam 60 detik
- Prajurit TNI AL dan Korps Marinir AS mengikuti simulasi penanganan korban massal akibat bencana di Hawaii, bagian dari latihan RIMPAC 2026.
- Latihan ini bertujuan memperkuat kemampuan respons cepat dan pertukaran teknik penanganan korban dalam operasi kemanusiaan dan militer.
- RIMPAC 2026 diikuti 31 negara dengan 30.000 personel, menjadi ajang strategis bagi Indonesia untuk meningkatkan interoperabilitas maritim.

Prajurit Korps Marinir TNI AL dan United States Marine Corps (USMC) menggelar simulasi penanganan korban luka dalam jumlah besar akibat bencana—dikenal sebagai mass casualty training (MASCAL)—di Hawaii, Minggu (26/7). Latihan yang merupakan bagian dari Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026 ini menyoroti pentingnya kesiapsiagaan Indonesia, negara yang berada di kawasan rawan gempa dan tsunami, dalam menghadapi situasi darurat dengan korban massal.
Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama Tunggul, mengungkapkan bahwa simulasi dirancang untuk melatih prajurit bekerja cepat, tepat, dan akurat saat menangani korban jiwa dalam skenario mendekati kondisi nyata. "Latihan ini juga menjadi sarana pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan teknik penanganan korban secara efektif dan efisien, baik dalam operasi militer maupun misi bantuan kemanusiaan," ujarnya.
Bagi Indonesia, partisipasi dalam MASCAL tidak sekadar rutinitas tahunan. Dengan letak geografis yang berada di Cincin Api Pasifik, negeri ini menghadapi ancaman bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, dan erupsi vulkanik. Kemampuan menangani korban massal secara cepat dan terkoordinasi menjadi kebutuhan mendesak, terutama di daerah terpencil yang sulit dijangkau. Kerja sama dengan USMC memungkinkan prajurit TNI AL mengadopsi standar internasional dalam triase, evakuasi, dan perawatan darurat.
Seluruh rangkaian latihan dilaksanakan berdasarkan prosedur keamanan ketat untuk memastikan keselamatan personel. Tunggul menambahkan bahwa skenario yang dijalankan dirancang menyerupai kondisi lapangan sesungguhnya, sehingga memperkuat mental dan keterampilan prajurit saat menghadapi tekanan tinggi. "Rangkaian latihan berjalan lancar dan aman," katanya.
RIMPAC sendiri dikenal sebagai latihan maritim multilateral terbesar di dunia. Ajang ini tidak hanya menguji kemampuan tempur, tetapi juga mempererat interoperabilitas antarpasukan. Bagi Indonesia, manfaat jangka panjangnya mencakup peningkatan profesionalisme dan jejaring kerja sama pertahanan maritim, yang krusial dalam menghadapi tantangan keamanan regional seperti sengketa perbatasan dan ancaman terorisme maritim.
Ke depan, apakah teknik penanganan korban massal yang dipelajari dalam MASCAL dapat diintegrasikan ke dalam doktrin BNPB dan lembaga tanggap darurat nasional? Jika ya, Indonesia tidak hanya akan memiliki prajurit yang sigap, tetapi juga sistem penanganan bencana yang lebih tangguh dalam melindungi warganya.



