Hancurnya Saham Teknologi Asia: KOSPI Anjlok 11%, Kekhawatiran AI Meredup
Baca dalam 60 detik
- Indeks KOSPI Korea Selatan tumbang 10,8% dan saham SK hynix serta Samsung ambles lebih dari 13% setelah laporan China mampu memproduksi teknologi chip yang selama ini dikuasai ASML.
- Kekhawatiran atas investasi AI yang belum membuahkan hasil serta valuasi yang membengkak memicu aksi jual besar-besaran di sektor semikonduktor global, menghapus keuntungan dua tahun terakhir.
- Pelemahan bursa Asia berpotensi menular ke Indonesia melalui arus modal keluar dan tekanan pada emiten teknologi, meski pasar dalam negeri masih ditopang sektor komoditas.

Bursa Asia babak belur pada Selasa (28/7) setelah indeks acuan Korea Selatan, KOSPI, ambles nyaris 11 persen—terparah sejak krisis keuangan global—dipicu laporan bahwa perusahaan China, Shanghai Yuliangsheng, telah memulai produksi massal teknologi litografi yang selama ini menjadi monopoli raksasa Belanda, ASML.
Kejatuhan itu menjadi babak baru dalam aksi jual saham teknologi yang sudah berlangsung beberapa pekan terakhir. Dalam dua tahun sebelumnya, reli saham semikonduktor telah mengantar beberapa indeks dan emiten ke rekor tertinggi. Namun, kekhawatiran bahwa investasi kecerdasan buatan (AI) yang menggunung belum juga menghasilkan keuntungan nyata mulai menggerogoti kepercayaan investor.
Di Seoul, saham SK hynix terjun 14,7 persen dan Samsung Electronics ambrol lebih dari 13 persen. Keduanya telah kehilangan nyaris separuh nilai pasar sejak mencapai puncak historis pada akhir Juni. KOSPI sendiri sudah merosot lebih dari 30 persen dari level tertingginya. Sementara itu, Nikkei Tokyo terperosok 4 persen setelah Kioxia jeblok lebih dari 18 persen, serta Advantest dan Tokyo Electron masing-masing jatuh 10 persen dan 11 persen. Bursa Taipei juga terkoreksi empat persen karena TSMC, raksasa chip utama, turut terpukul.
Sebagian besar bursa Asia lainnya ikut merosot: Shanghai, Singapura, Manila, Mumbai, dan Jakarta. Namun, Hong Kong, Sydney, dan Wellington mencatat kenaikan tipis. Di Eropa, London, Paris, dan Frankfurt berhasil menguat tipis, tetapi sentimen tetap rapuh menyusul kejatuhan indeks Philadelphia Semiconductor Index di Wall Street sebesar 2,2 persen sehari sebelumnya. Sandisk ambrol 11 persen, sedangkan Advanced Micro Devices dan Nvidia masing-masing kehilangan sekitar lima persen. Saham ASML di Amsterdam bahkan rontok lebih dari delapan persen.
Stephen Innes, mitra pengelola SPI Asset Management, menilai fundamental semikonduktor jangka pendek sebenarnya belum runtuh. “Permintaan memori bandwidth tinggi masih kuat, hyperscaler masih membelanjakan uang, dan perusahaan teknologi besar belum membatalkan rencana belanja modal. Yang berubah adalah kemauan pasar untuk mengkapitalisasi janji-janji itu dengan harga berapa pun,” tulisnya. Ia menggambarkan perdagangan AI seperti roda gila: kenaikan nilai ekuitas mendorong belanja lebih besar, belanja membenarkan ekspektasi laba, dan ekspektasi itu kembali mendongkrak valuasi. “Sekarang roda yang sama mulai melemparkan investor dengan kecepatan tinggi.”
Para pelaku pasar kini menanti laporan keuangan pekan ini dari SK hynix, Samsung, Kioxia, serta raksasa Amerika Serikat: Microsoft, Meta, Apple, dan Amazon. Hasil laporan tersebut akan menjadi ujian apakah valuasi saham teknologi masih masuk akal.
Bagi Indonesia, gejolak ini perlu dicermati. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut tertekan meski tidak sedalam bursa Asia lainnya. Sektor teknologi di bursa domestik masih relatif kecil, tetapi kekhawatiran perlambatan ekonomi global dapat memicu arus modal asing keluar dari pasar emerging. Di sisi lain, penurunan harga minyak akibat harapan damai AS-Iran memberikan angin segar bagi anggaran subsidi energi Indonesia. Namun, ketidakpastian di sektor semikonduktor dan AI bisa memperlambat investasi di pusat data dan infrastruktur digital yang selama ini digenjot pemerintah.
Kejatuhan bursa Asia juga terjadi di tengah optimisme baru atas konflik Timur Tengah. Amerika Serikat dan Iran menghentikan serangan balasan selama tiga hari, dan mantan Presiden Donald Trump menyatakan ada “peluang bagus” kesepakatan damai. Laporan menyebut Oman dan Iran tengah merundingkan kembali pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur yang mengangkut seperlima minyak dan gas alam cair dunia. Harapan itu membuat harga minyak mentah ambles lebih dari delapan persen pada Senin, dan masih turun satu persen pada Selasa.
Pertanyaan besar kini: apakah aksi jual ini hanya koreksi sementara atau awal dari tren bearish jangka panjang? Dengan valuasi yang masih tinggi dan prospek suku bunga global yang belum jelas, investor disarankan mencermati fundamental emiten ketimbang terbawa sentimen sesaat.



