Trem Kayu Berusia 115 Tahun Kembali Beroperasi di Nagasaki, Hidupkan Nostalgia
Baca dalam 60 detik
- Trem tertua Jepang, No. 168 buatan 1911, dioperasikan kembali dalam rangkaian peringatan Hari Trem di Nagasaki.
- Dengan bodi kayu dan pintu manual, trem ini menghadirkan pengalaman transportasi era Meiji yang langka.
- Momen ini mengingatkan pada potensi pelestarian transportasi bersejarah di Indonesia, seperti trem di Surabaya atau Jakarta.

Nagasaki Electric Tramway Co. mengoperasikan kembali trem tertua Jepang, No. 168, yang dibangun pada 1911, dalam sebuah perjalanan komemoratif pada 10 Juni lalu, bertepatan dengan "Hari Trem" yang dirayakan secara lokal. Trem kayu berusia 115 tahun itu menjadi daya tarik utama bagi warga dan wisatawan yang ingin merasakan sensasi transportasi klasik era Meiji.
Trem No. 168 pertama kali dioperasikan oleh Kyushu Electric Railway Co., yang kini bernama Nishi-Nippon Railroad Co., sebelum akhirnya dipindahkan ke Nagasaki Electric Tramway pada 1959. Dengan bodi kayu asli dan pintu yang dioperasikan secara manual, trem ini menghadirkan pengalaman berbeda dari moda transportasi modern. Penumpang harus membayar tunai dan mengangkat tangan untuk memberi tahu kondektur saat ingin turun โ sebuah sistem yang sudah jarang ditemui.
Seorang penumpang pria berusia 77 tahun yang menikmati perjalanan dari Stasiun Nagasaki ke Stasiun Hotarujaya mengungkapkan bahwa suara dan atmosfer trem tersebut membangkitkan kenangan masa lalu. "Suara dan suasananya sangat nostalgia," ujarnya, menggambarkan pengalaman yang sulit ditemukan di era kereta listrik modern.
Peristiwa ini tidak hanya menjadi nostalgia bagi warga lokal, tetapi juga menarik perhatian para penggemar transportasi klasik dari berbagai negara. Nagasaki, yang dikenal dengan sejarah perdagangan dan budaya asing, memiliki jaringan trem yang telah beroperasi sejak awal abad ke-20. Keberadaan trem bersejarah ini menjadi salah satu daya tarik wisata yang unik, sekaligus menjadi simbol pelestarian warisan industri.
Bagi Indonesia, momen ini dapat menjadi refleksi tentang pentingnya melestarikan moda transportasi bersejarah. Beberapa kota di Indonesia, seperti Surabaya dan Jakarta, pernah memiliki trem yang kini tinggal kenangan. Upaya revitalisasi trem bersejarah di Indonesia masih terbatas, sementara Jepang menunjukkan bahwa trem tua bisa menjadi aset wisata dan edukasi yang bernilai. Menurut pengamat transportasi, pelestarian trem tidak hanya menjaga sejarah, tetapi juga bisa mendorong pariwisata dan memberikan alternatif transportasi ramah lingkungan.
Ke depan, Nagasaki Electric Tramway berencana mengoperasikan trem No. 168 secara berkala pada acara-acara khusus. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengikuti jejak Jepang dalam menghidupkan kembali trem-trem bersejarahnya?



