Kontroversi Patung Mohenjo-daro: NCERT Tarik Versi Sensor dari Buku Teks
Baca dalam 60 detik
- NCERT menarik gambar patung 'Dancing Girl' yang disensor setelah mendapat tekanan dari sejarawan dan pegiat pendidikan.
- Versi asli patung perunggu berusia 4.500 tahun itu telah dikembalikan ke buku teks digital dan cetakan baru.
- Insiden ini memicu perdebatan tentang sensor sejarah dan kebebasan akademik di kurikulum sekolah India.

Keputusan badan kurikulum India, National Council of Educational Research and Training (NCERT), untuk menarik gambar patung 'Dancing Girl' yang telah disensor menuai sorotan tajam. Patung perunggu peninggalan Peradaban Lembah Indus itu sebelumnya muncul dalam buku teks kelas sembilan dengan bagian dada tertutup bayangan gelap, menghilangkan detail anatomi aslinya.
Langkah NCERT itu langsung memicu gelombang protes dari kalangan sejarawan dan akademisi. Mereka menilai tindakan tersebut sebagai bentuk pengubahan artefak sejarah yang tidak bertanggung jawab. Patung 'Dancing Girl' yang ditemukan di situs Mohenjo-daro, Pakistan, merupakan salah satu ikon arkeologi paling dikenal dari peradaban kuno yang maju dalam bidang metalurgi.
Direktur NCERT, Dinesh Saklani, akhirnya mengumumkan penarikan gambar yang dimodifikasi tersebut. "Setelah berkonsultasi dengan para ahli, kami mengganti gambar 'Dancing Girl' dengan versi aslinya," ujarnya kepada kantor berita ANI. Versi digital buku teks telah diperbarui, dan edisi cetak berikutnya akan memuat foto asli patung tersebut.
Meski NCERT belum mengungkap alasan di balik sensor tersebut, media lokal berspekulasi bahwa kekhawatiran akan ketelanjangan menjadi pemicunya. Padahal, patung yang menggambarkan seorang gadis muda dengan rambut disanggul dan perhiasan itu telah muncul di buku teks selama puluhan tahun tanpa sensor. Sebuah editorial di harian Indian Express mengkritik keras langkah ini, menyatakan bahwa 'Dancing Girl' penting bukan karena mematuhi standar kesopanan yang buta, melainkan karena memancarkan ketenangan, kepercayaan diri, dan kehadiran yang tak terbantahkan.
Kontroversi ini membuka kembali diskusi tentang sensor dalam pendidikan di India. Di Indonesia, perdebatan serupa pernah terjadi ketika gambar candi atau relief bernuansa sensual disensor dalam buku pelajaran. Para pegiat pendidikan Indonesia menekankan pentingnya menyajikan artefak sejarah secara utuh tanpa mengorbankan nilai akademis demi kepatutan semu. "Pendidikan sejarah harus jujur pada fakta, bukan pada interpretasi moral yang sempit," ujar seorang pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia.
Kasus NCERT menjadi pengingat bahwa sensor atas warisan budaya dapat menimbulkan resistensi luas. Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah: sejauh mana otoritas pendidikan boleh mengubah konten sejarah demi alasan etika atau moral? Ataukah justru dengan menyajikan artefak apa adanya, siswa diajak berpikir kritis tentang konteks budaya masa lalu? Jawabannya mungkin tidak sederhana, tetapi satu hal pasti: upaya menyembunyikan sejarah hanya akan membuatnya semakin ingin diketahui.



