KSP Puji Program Konveksi Nusakambangan: Warga Binaan Raup Keterampilan dan Harapan Baru
Baca dalam 60 detik
- Program BLK Konveksi di Lapas Nirbaya Nusakambangan memberdayakan hingga 100 warga binaan dengan keterampilan menjahit.
- Setiap hari, unit ini memproduksi 600โ1.200 potong pakaian, membekali narapidana dengan keahlian untuk hidup mandiri setelah bebas.
- Salah satu warga binaan, Muhammad Ridwan, berubah dari pemula menjadi instruktur, menunjukkan dampak transformatif program bagi reintegrasi sosial.

Kantor Staf Presiden (KSP) memberikan apresiasi terhadap program Balai Latihan Kerja (BLK) Konveksi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas II B Nirbaya, Nusakambangan, Cilacap, karena dinilai mampu membekali warga binaan dengan keterampilan menjahit yang menjadi bekal hidup setelah mereka kembali ke masyarakat.
Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menilai program yang diinisiasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) ini memberikan dampak nyata. Menurutnya, warga binaan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga mendapatkan harapan baru untuk masa depan. "Pengembangan yang luar biasa. Mereka punya bekal untuk berbuat baik dan menghasilkan nafkah bagi keluarga," ujarnya saat meninjau langsung lokasi di Pulau Nusakambangan.
Menteri Imipas Agus Andrianto menambahkan, pembinaan kemandirian merupakan bagian integral dari sistem pemasyarakatan modern. Tujuannya bukan sekadar menghukum, melainkan menyiapkan narapidana agar memiliki kompetensi dan mampu kembali produktif. Program BLK Konveksi ini menjadi salah satu ujung tombak, dengan kapasitas memberdayakan hingga 100 orang warga binaan setiap harinya.
Kisah Muhammad Ridwan (28) menjadi contoh nyata keberhasilan program. Ia mengaku belajar menjahit dari nol, tanpa pengetahuan sebelumnya. "Benar-benar nol, enggak tahu sama sekali," katanya. Setelah mengikuti pelatihan secara konsisten, Ridwan kini dipercaya menjadi instruktur bagi sesama warga binaan. Ia tidak hanya menguasai keterampilan, tetapi juga menularkannya kepada yang lain, menciptakan siklus pembelajaran berkelanjutan di dalam lapas.
Program seperti ini memberikan dimensi baru bagi sistem pemasyarakatan di Indonesia. Selain mengurangi angka residivisme, keterampilan yang diperoleh warga binaan dapat menjadi modal untuk bersaing di pasar kerja. Unit produksi konveksi ini juga berkontribusi secara ekonomi dengan memenuhi pesanan pakaian dari berbagai pihak, menunjukkan bahwa narapidana mampu menghasilkan produk berkualitas.
Ke depan, perluasan program serupa di lapas-lapas lain di Indonesia dinilai penting. Dengan lebih dari 270 ribu warga binaan di seluruh tanah air, program keterampilan seperti BLK Konveksi bisa menjadi solusi untuk memutus rantai kriminalitas dan mengubah stigma masyarakat terhadap mantan narapidana. Pertanyaannya, mampukah pemerintah mempercepat replikasi model Nusakambangan ini ke daerah lain?



