Ketika Kicau Pleci Hening: Tragedi Burung Kacamata di Hutan Muria
Baca dalam 60 detik
- Populasi pleci (Zosterops) di Gunung Muria menurun drastis akibat perburuan massal untuk memenuhi tren lomba burung kicau.
- Mantan pemburu kini menjadi konservasionis, mengembangkan ekowisata burung sebagai solusi ekonomi alternatif.
- Para ahli menyebut fenomena ini sebagai 'tragedy of the commons' yang mengancam peran ekologis pleci sebagai penyerbuk dan penyebar biji.

Kicau burung pleci yang dulu setiap pagi terdengar dari pekarangan rumah, kini hanya sesekali muncul bagai bisu di antara pepohonan Hutan Muria. Setyawan Rahayu, pegiat konservasi dari Peka Muria, mengakui bahwa keheningan itu adalah harga mahal dari tren burung kicau yang pernah melanda Indonesia.
Dua dekade silam, pleci atau burung kacamata (Zosterops) adalah pemandangan biasa di lereng Gunung Muria, Jawa Tengah. Hidup berkelompok, burung ini mudah terperangkap ketika hinggap di pohon berbunga yang diolesi getah. Dalam sehari, pemburu bisa menjerat ratusan ekor. Harga jual yang terus meroket sejak awal 2010-an membuat banyak warga, termasuk Setyawan, tergiur menjadi pemburu dadakan.
Namun, kesadaran datang ketika hutan terasa semakin sunyi. "Dulu tidak perlu masuk hutan, dari rumah saja sudah bisa mendengar suaranya setiap hari," kenang Setyawan. Titik balik itu mendorongnya bergabung dengan komunitas konservasi dan kini aktif mengedukasi warga tentang nilai burung yang terbang bebas.
Menurut Achmad Ridha Junaid, Biodiversity Conservation Officer Burung Indonesia, penurunan populasi pleci di alam sangat terasa meski belum ada penelitian kuantitatif. Dari pengamatan lapangan dan cerita warga, perubahan drastis terjadi dalam dua dekade terakhir. Ridha menyebut fenomena ini sebagai 'tragedy of the commons'—spesies yang dianggap umum justru luput dari perhatian konservasi hingga populasinya ambruk tanpa disadari.
Berbeda dengan satwa lain yang terancam akibat hilangnya habitat, pleci menjadi korban langsung tren budaya. Semakin populer burung ini di arena lomba, semakin besar tekanan terhadap populasi liar. "Kalau ada permintaan, pasti ada pasokan. Saat penangkaran belum memenuhi kebutuhan pasar, alam jadi sumber yang paling mudah dieksploitasi," tegas Ridha.
Di Indonesia, hobi memelihara dan melombakan burung berkicau telah menjadi industri besar. Kelas perlombaan khusus pleci pun bermunculan. Namun, di balik gemerlap trofi, hutan kehilangan salah satu penyerbuk utamanya. Hilangnya pleci bukan hanya soal kehilangan suara merdu, tetapi juga alarm bagi kesehatan ekosistem. Burung ini berperan menyebarkan biji dan menyerbuki bunga berbagai jenis tumbuhan hutan.
Upaya penyelamatan tidak bisa hanya mengandalkan larangan berburu. Setyawan dan komunitas Peka Muria mengembangkan wisata pengamatan burung dan pendidikan lingkungan sebagai alternatif ekonomi. Masyarakat diajak menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek konservasi. "Burung yang terbang bebas punya nilai jauh lebih besar dibanding yang dikurung di sangkar," ujarnya.
Pertanyaan besarnya, akankah tren lomba burung kicau bisa berjalan beriringan dengan kelestarian populasi liar? Ataukah keheningan di Hutan Muria akan menjadi preseden bagi kawasan lain di Indonesia?



