Restorasi Gerbang Selatan Ta Prohm di Kamboja Ditargetkan Rampung Akhir 2026
Baca dalam 60 detik
- Proyek restorasi Gerbang Selatan Candi Ta Prohm di kawasan Angkor, Kamboja, diperkirakan selesai pada Desember 2026.
- Teknik anastylosis digunakan untuk membongkar dan merakit ulang struktur dengan material asli, dengan 75 persen pekerjaan telah rampung.
- Keberhasilan restorasi ini menjadi tolok ukur bagi upaya pelestarian candi-candi serupa di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Pemerintah Kamboja menargetkan restorasi Gerbang Selatan Candi Ta Prohm di Taman Arkeologi Angkor rampung pada akhir 2026. Proyek yang dimulai awal 2023 ini merupakan hasil kerja sama antara Otoritas Nasional APSARA (ANA) dan Survei Arkeologi India (ASI). Hingga kini, sekitar 75 persen pekerjaan telah diselesaikan.
Menurut arkeolog ANA, Neth Simon, tim restorasi telah memperkuat fondasi gerbang dan menempatkan kembali batu-batu ke posisi aslinya. Teknik yang digunakan adalah anastylosis, yaitu membongkar struktur dan merakitnya kembali menggunakan material orisinal. Sebelum proyek dimulai, gerbang selatan telah runtuh total dengan banyak batu tercecer dan tercampur aduk.
Simon menambahkan bahwa sekitar 15 persen batu asli mengalami kerusakan, pecah, atau hilang akibat runtuhan. Oleh karena itu, batu baru hanya digunakan jika benar-benar diperlukan untuk menggantikan elemen struktural yang hilang, menopang batu asli, dan mencegah infiltrasi air ke fondasi. Tim juga melakukan penelitian ekstensif untuk mengidentifikasi dan memindahkan batu-batu yang berserakan ke posisi aslinya.
Candi Ta Prohm dibangun pada akhir abad ke-12 di bawah pemerintahan Raja Jayavarman VII. Candi ini merupakan salah satu candi utama di Taman Arkeologi Angkor seluas 401 kilometer persegi di Provinsi Siem Reap, yang menjadi destinasi wisata paling populer di Kamboja. Taman yang masuk dalam daftar Warisan Dunia UNESCO ini menarik 359.471 wisatawan mancanegara pada Januari-Mei 2026, dengan pendapatan kotor 17,2 juta dolar AS dari penjualan tiket.
Bagi Indonesia, keberhasilan restorasi Ta Prohm menjadi pelajaran berharga. Indonesia memiliki banyak candi bersejarah seperti Borobudur dan Prambanan yang memerlukan perawatan serupa. Teknik anastylosis dan kerja sama internasional yang diterapkan di Kamboja dapat menjadi model bagi upaya konservasi di Tanah Air. Apalagi, Indonesia juga menghadapi tantangan kerusakan struktur akibat usia dan faktor alam.
Ke depannya, restorasi Gerbang Selatan Ta Prohm diharapkan tidak hanya memulihkan keindahan arsitektur Khmer, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata Angkor. Pertanyaannya, apakah Indonesia dapat mengadopsi pendekatan serupa untuk melestarikan warisan budayanya sendiri?



