Bukalapak Tunjuk Eks Kapolri Sutarman sebagai Komisaris Utama: Langkah Strategis Hadapi Ancaman Siber
Baca dalam 60 detik
- Mantan Kapolri Sutarman resmi menjabat Komisaris Utama dan Komisaris Independen Bukalapak, menggantikan Yenny Wahid.
- Pengangkatan ini menyusul lonjakan kerugian akibat kejahatan siber di Indonesia yang mencapai Rp476 miliar dalam tiga bulan terakhir.
- Emiten teknologi ini juga menunjuk Natalia Firmansyah sebagai Plt. Direktur Utama untuk memastikan kontinuitas bisnis.

PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) menunjuk mantan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Sutarman sebagai Komisaris Utama sekaligus Komisaris Independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar Jumat (12/6/2026). Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa perusahaan rintisan teknologi itu tengah memperkuat tata kelola dan keamanan siber di tengah maraknya serangan digital yang merugikan negara hingga ratusan miliar rupiah.
Komisaris Utama BUKA, Adi Wardhana Sariaatmadja, mengungkapkan bahwa pengalaman Sutarman di bidang kepemimpinan dan keamanan siber dinilai krusial bagi masa depan perseroan. "Kami berharap kehadiran beliau dapat memperkuat fungsi pengawasan dan memberikan perspektif strategis dalam menghadapi perkembangan industri digital," ujarnya dalam keterangan resmi. Data Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat kerugian akibat kejahatan siber mencapai Rp476 miliar pada November 2024 hingga Januari 2025, dengan lonjakan laporan penipuan digital hingga 1,2 juta kasus pada pertengahan 2025.
Pergantian jajaran direksi juga terjadi bersamaan. RUPST menyetujui pengangkatan Natalia Firmansyah sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama menggantikan Willix Halim yang telah menyelesaikan masa tugasnya. Victor Putra Lesmana kembali diangkat sebagai Direktur Perseroan. Menurut manajemen, rotasi ini bertujuan menjaga keberlanjutan strategi bisnis dan penerapan Good Corporate Governance (GCG). Natalia akan memimpin sementara hingga direktur utama definitif ditetapkan sesuai rekomendasi Komite Nominasi dan Remunerasi.
Di sisi lain, Yenny Wahid resmi mengakhiri masa jabatannya sebagai Komisaris Independen dan ESG Ambassador perseroan. Manajemen BUKA memberikan apresiasi atas kontribusinya dalam mendorong tata kelola dan inisiatif keberlanjutan. Langkah ini menandai perubahan arah strategis perusahaan yang mulai mengedepankan aspek keamanan siber sebagai prioritas utama.
Bagi investor di Indonesia, penunjukan Sutarman dapat diartikan sebagai upaya BUKA meningkatkan kepercayaan publik dan memperkuat posisinya di tengah tekanan regulasi keamanan data. Dengan latar belakangnya di kepolisian, Sutarman diharapkan mampu membawa perspektif baru dalam mitigasi risiko digital yang kian kompleks. Pertanyaannya, akankah langkah ini cukup untuk memulihkan kepercayaan pasar yang sempat goyah akibat isu keamanan siber?



