Polisi Vietnam Gagalkan Pusat Penipuan Online Berskala Besar, Empat Tersangka Ditangkap
Baca dalam 60 detik
- Empat tersangka, termasuk warga negara China, ditangkap karena merencanakan pusat penipuan online di Vietnam setelah digerebek di Kamboja.
- Polisi menyita 73 komputer, 134 ponsel, dan puluhan perangkat lain yang siap digunakan untuk operasi penipuan lintas negara.
- Keberhasilan penggerebekan ini mencegah beroperasinya pusat penipuan yang diperkirakan akan menargetkan korban di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Kepolisian Provinsi Phu Tho, Vietnam utara, menangkap empat tersangka yang diduga merencanakan pendirian pusat penipuan online berskala besar. Operasi ini berhasil digagalkan sebelum sempat beroperasi, menyelamatkan potensi ribuan korban dari modus penipuan investasi dan transfer dana ilegal.
Empat tersangka yang ditangkap adalah Zhao Wei Zhong (warga negara China), serta tiga warga Vietnam: Nguyen Thanh Long, Tran Thi Thu Huong, dan Pham Dình Nam. Mereka ditahan berdasarkan surat perintah penangkapan darurat setelah polisi menemukan aktivitas mencurigakan berupa penyewaan beberapa resor, vila, dan penginapan di Hanoi serta Provinsi Lao Cai dan Phu Tho untuk menampung kelompok besar warga asing dalam jangka waktu lama.
Penyelidikan awal mengungkap bahwa kelompok ini terkait dengan sindikat penipuan online yang sebelumnya beroperasi di Kamboja. Banyak dari tersangka diduga pernah bekerja di pusat penipuan dengan struktur manajemen tertutup, memiliki tim khusus untuk mengidentifikasi target, mendekati korban, memberikan saran investasi, menginstruksikan transfer uang, dan mengelola hasil ilegal.
Menurut polisi, para tersangka memilih Vietnam sebagai basis baru karena banyaknya resor, vila, dan penginapan terpencil yang jauh dari pemukiman penduduk, sehingga cocok untuk menampung banyak warga asing dan memasang peralatan untuk kegiatan kriminal online. Zhao Wei Zhong ditugaskan untuk survei lokasi, koordinasi operasi, dan mengatur akomodasi bagi individu yang pindah dari Kamboja. Ia juga bekerja sama dengan kaki tangan lokal untuk menyiapkan fasilitas, peralatan teknis, dan kebutuhan logistik lainnya.
Bulan lalu, para tersangka diduga mengatur pemindahan puluhan warga China ke berbagai lokasi di Hanoi, Lao Cai, dan Phu Tho. Polisi menemukan 16 individu tanpa dokumen imigrasi yang sah. Untuk menyembunyikan aktivitas mereka, kelompok ini sering berpindah lokasi, menyewa properti besar dengan kontrak jangka panjang, dan meminimalkan kontak dengan penduduk setempat.
Penyelidikan lebih lanjut mengungkap bahwa mereka tidak sekadar menyewa tempat, tetapi secara aktif menyiapkan infrastruktur untuk mendirikan pusat penipuan online besar. Di tempat-tempat sewaan, kelompok itu membeli dan memasang sistem komputer, ponsel, peralatan siaran internet, furnitur kantor, tempat tidur susun, dan barang-barang lain untuk mendukung operasi skala besar. Polisi mencatat semua peralatan baru saja diangkut dan dipasang, nyaris akan digunakan.
Kepolisian menekankan bahwa deteksi dini dan penggagalan operasi ini sangat penting karena personel, infrastruktur, dan peralatan teknis untuk jaringan penipuan baru saja dirakit dan dipasang sebelum akhirnya dilumpuhkan. Langkah ini mencegah munculnya pusat penipuan teknologi tinggi transnasional besar di Vietnam.
Bagi Indonesia, modus serupa patut diwaspadai. Pusat penipuan online di Kamboja dan Vietnam kerap menargetkan korban di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, melalui tawaran investasi palsu atau undangan kerja fiktif. Otoritas Indonesia perlu memperkuat kerja sama intelijen dengan negara-negara tetangga untuk mengantisipasi relokasi sindikat serupa ke wilayah Indonesia, mengingat banyaknya resor dan vila terpencil yang juga tersedia di dalam negeri.
Keberhasilan Vietnam ini menjadi alarm bagi negara-negara ASEAN untuk meningkatkan patroli siber dan pengawasan properti sewaan yang mencurigakan. Pertanyaan yang muncul: apakah sindikat penipuan online akan mencoba mendirikan basis baru di negara lain, termasuk Indonesia, setelah operasi mereka digagalkan di Vietnam?



