Waspada, Hoaks Undian BCA Makin Canggih: Kenali Modus Phishing Terbaru
Baca dalam 60 detik
- Penipuan mengatasnamakan BCA dengan iming-iming hadiah fiktif kian marak, menyasar nasabah melalui tautan phishing di media sosial dan pesan singkat.
- Modus terbaru memanfaatkan program resmi 'Gebyar Hadiah BCA' untuk mencuri data perbankan seperti nomor kartu ATM, ID BCA, dan kata sandi.
- Nasabah diimbau tidak mengklik tautan mencurigakan dan selalu memverifikasi informasi melalui kanal resmi BCA.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7836624/original/039364800_1780657446-Tugas__26_.jpg)
Maraknya unggahan di media sosial yang menawarkan undian berhadiah mengatasnamakan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) kembali menjadi ancaman serius bagi nasabah. Modus penipuan ini memanfaatkan program loyalitas resmi, seperti "Gebyar Hadiah BCA", untuk menjebak korban agar menyerahkan data pribadi perbankan mereka.
Pelaku biasanya menyebarkan pesan melalui SMS, WhatsApp, atau iklan di platform media sosial yang berisi tautan mencurigakan. Tautan tersebut mengarahkan nasabah ke situs web palsu yang dirancang menyerupai halaman resmi BCA. Situs phishing ini sering kali menggunakan gambar dan tata letak yang identik dengan situs asli, sehingga sulit dibedakan oleh pengguna awam. Setelah masuk, korban diminta mengisi formulir yang meminta informasi sensitif, seperti nomor kartu ATM, nomor ponsel, ID BCA, dan kata sandi.
Tim verifikasi Liputan6.com menemukan setidaknya tiga varian hoaks yang beredar dalam setahun terakhir. Pertama, klaim pendaftaran undian Gebyar BCA 2026 yang muncul pada akhir Mei 2026. Unggahan di Facebook itu menjanjikan hadiah 25 unit mobil, 50 smartphone, dan 25 emas batangan, serta menyertakan formulir yang meminta nomor WhatsApp dan saldo rekening. Kedua, tautan cetak kupon program undian yang beredar pada Februari 2026, dengan iming-iming uang tunai Rp10 juta hingga Rp100 juta. Ketiga, poster digital "The New Gebyar Hadiah BCA" pada Agustus 2025 yang mengklaim pengguna mobile banking berhak atas kupon hadiah.
BCA sendiri secara rutin mengingatkan nasabah bahwa program undian resmi tidak pernah meminta data pribadi melalui tautan di media sosial atau pesan berantai. Perusahaan juga menyediakan kanal informasi resmi, seperti Halo BCA di 1500888, untuk konfirmasi. Namun, para penipu terus memperbarui strategi mereka, termasuk menggunakan nama program yang sedang berlangsung agar lebih meyakinkan.
Fenomena ini tidak hanya merugikan nasabah secara finansial, tetapi juga mengikis kepercayaan terhadap layanan perbankan digital. Di Indonesia, di mana adopsi mobile banking terus meningkat, literasi keamanan siber menjadi krusial. Nasabah harus selalu waspada terhadap tawaran yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan dan tidak pernah membagikan kredensial perbankan kepada pihak mana pun.
Ke depannya, kolaborasi antara bank, regulator, dan platform media sosial diperlukan untuk mempercepat penurunan konten penipuan. Pertanyaan yang menggantung: seberapa cepat ekosistem digital Indonesia dapat beradaptasi untuk melindungi konsumen dari modus phishing yang kian canggih?



