Visa PHK 7% Karyawan, Fokus pada Efisiensi dan Transformasi Digital
Baca dalam 60 detik
- Visa memangkas 7% tenaga kerja global atau sekitar 2.600 posisi, terutama di divisi teknologi dan produk.
- Langkah ini mengikuti jejak Mastercard dan Block, menandai tekanan efisiensi di industri pembayaran digital.
- Otomatisasi berbasis AI disebut mempercepat perubahan, meski bukan satu-satunya faktor di balik keputusan tersebut.

Visa mengumumkan pemangkasan 7% dari total tenaga kerjanya, setara dengan sekitar 2.600 posisi, sebagai bagian dari upaya efisiensi di tengah transformasi digital yang didorong kecerdasan buatan (AI). Langkah ini diambil sekitar enam bulan setelah pesaing utamanya, Mastercard, melakukan pemangkasan serupa, menandakan tekanan yang semakin besar di sektor pembayaran global untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Pemangkasan terutama menyasar tim teknologi dan produk, seperti diungkapkan juru bicara perusahaan. CEO Visa, Ryan McInerney, dalam memo internal menegaskan perlunya perusahaan terus berevolusi untuk menangkap peluang ke depan dan memimpin transformasi industri. AI dinilai telah mempercepat pengurangan tugas repetitif serta mempercepat pengembangan produk, meskipun Bloomberg melaporkan bahwa AI bukan satu-satunya pemicu keputusan ini. Faktor efisiensi operasional dan penyesuaian strategi bisnis juga ikut berperan.
Langkah Visa terjadi di tengah tren serupa di industri fintech. Mastercard sebelumnya memangkas 4% staf globalnya, sementara Block, induk Square, pada Februari lalu memangkas hingga 50% tenaga kerjanya. Tekanan untuk merampingkan organisasi dan fokus pada profitabilitas jangka panjang menjadi tema umum di sektor ini, terutama setelah periode ekspansi agresif selama pandemi. Pada laporan tahunan 2025, Visa mencatat memiliki sekitar 34.100 karyawan, meningkat 8% dibanding tahun sebelumnya, namun pertumbuhan itu kini dikoreksi.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki arti penting. Visa merupakan salah satu pemain utama pembayaran digital di tanah air, terutama di segmen kartu kredit dan debit. Meskipun PHK bersifat global, efisiensi di kantor pusat berpotensi mempengaruhi strategi ekspansi di kawasan Asia Tenggara. Di sisi lain, adopsi pembayaran non-tunai di Indonesia terus melesat, didorong oleh QRIS dan dompet digital lokal. Visa harus tetap inovatif tanpa mengorbankan layanan di pasar yang sedang bertumbuh, namun efisiensi bisa mengalihkan sumber daya ke prioritas yang lebih menguntungkan.
Analis menilai langkah ini sebagai sinyal bahwa era pertumbuhan agresif di fintech mulai bergeser ke arah efisiensi dan profitabilitas. Keputusan Visa juga mencerminkan bagaimana AI mulai mengubah struktur pekerjaan di sektor jasa keuangan, menggantikan tugas rutin namun belum sepenuhnya menghilangkan peran manusia. Teknologi otomatisasi memungkinkan perusahaan melakukan lebih banyak dengan lebih sedikit tenaga kerja, namun di sisi lain menimbulkan tantangan bagi karyawan yang terkena dampak.
Dengan pengumuman PHK yang bertepatan dengan rilis laporan keuangan kuartalan, pasar akan mencermati apakah langkah efisiensi ini cukup untuk menjaga daya saing Visa di tengah tekanan dari Mastercard dan pemain fintech lainnya. Pertanyaan besarnya: sejauh mana AI akan terus membentuk ulang lapangan kerja di industri pembayaran global, dan bagaimana nasib pekerja yang terdampak di berbagai negara, termasuk Indonesia?



