Phapros Optimistis Raup Laba Double Digit di 2026, Ini Jurus Sang Bos
Baca dalam 60 detik
- Emiten farmasi PT Phapros Tbk menargetkan pertumbuhan penjualan di atas 20% dan laba bersih double digit pada 2026, didorong oleh strategi pengendalian biaya dan ekspansi pasar.
- Kinerja kuartal I-2026 menunjukkan laba bersih melonjak 112,86% secara tahunan, ditopang efisiensi biaya produksi dan beban usaha yang terkendali.
- Perseroan menyiapkan lima pilar strategi, termasuk penguatan modal kerja, transformasi digital, dan ekspansi ekspor, untuk menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan global.
PT Phapros Tbk (PEHA) membidik pertumbuhan laba bersih double digit pada tahun 2026, setelah pada kuartal pertama tahun ini berhasil membalikkan kerugian menjadi laba bersih Rp761,49 juta. Optimisme itu disampaikan Direktur Utama Phapros, Intan Abdams Katoppo, dalam paparan publik di Jakarta, Jumat (12/6/2026).
Perusahaan farmasi pelat merah ini mencatatkan lonjakan laba bersih 112,86% secara tahunan pada periode Januari–Maret 2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih merugi Rp5,92 miliar. Kenaikan itu ditopang oleh pertumbuhan penjualan sebesar 10,17% menjadi Rp221,09 miliar, sementara beban pokok penjualan (COGS) hanya naik 5,04% dan beban usaha naik 7,35%. Artinya, efisiensi biaya menjadi kunci utama perbaikan profitabilitas.
Intan menegaskan bahwa fundamental bisnis Phapros semakin kokoh. "Laba bersih tahun 2025 tumbuh 109% dan kuartal I-2026 tumbuh lebih besar lagi, yaitu 113% secara tahunan. Kami optimistis tren ini berlanjut hingga akhir tahun," ujarnya. Target penjualan 2026 dipatok tumbuh di atas 20%, sementara laba bersih ditargetkan tumbuh double digit.
Untuk mencapai target tersebut, Phapros menyiapkan lima strategi utama. Pertama, penguatan finansial melalui optimalisasi modal kerja dan pengendalian biaya yang lebih terukur. Kedua, peningkatan kepuasan pelanggan yang diukur dengan indeks kepuasan layanan dan produk. Ketiga, penguatan portofolio produk dan bisnis, termasuk peluncuran produk baru dan ekspansi pasar ekspor.
Strategi keempat adalah transformasi sistem dan proses bisnis, yang mencakup peningkatan pangsa pasar, integrasi rantai pasok cerdas, pengembangan inovasi, transformasi digital, serta penataan harga pokok produksi. Kelima, optimalisasi sumber daya manusia melalui restrukturisasi organisasi dan peningkatan kapasitas human capital. Intan menambahkan, transformasi proses bisnis akan menyasar seluruh segmen produk: obat bebas (OTC), obat generik berlogo (OGB), dan obat ethical.
Bagi investor di pasar modal Indonesia, prospek Phapros menarik dicermati. Efisiensi biaya yang konsisten dan diversifikasi produk menjadi modal bersaing di industri farmasi yang ketat. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga bahan baku dan kebijakan harga obat pemerintah tetap perlu diwaspadai. Pertanyaannya, mampukah Phapros mempertahankan momentum pertumbuhan laba hingga akhir tahun di tengah ketidakpastian ekonomi global?



