Saham Airtel Africa Tembus Rekor Tertinggi 52 Pekan, Target Harga N5.818 Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Harga saham Airtel Africa di Bursa Efek Nigeria melonjak ke N4.021,2, mencatat rekor tertinggi dalam 52 pekan dengan kapitalisasi pasar mencapai N15,1 triliun.
- Kenaikan ini didorong oleh optimisme investor menjelang rilis laba kuartal kedua, serta rekomendasi beli dari CardinalStone dengan target harga N5.818,43 yang mengindikasikan potensi upside 59,2%.
- Pertumbuhan pendapatan Airtel Africa yang melesat 29,4% year-on-year, didukung kenaikan tarif di Nigeria dan penetrasi smartphone, menjadi katalis utama sentimen positif.

Saham Airtel Africa Plc menembus level tertinggi dalam 52 pekan di Bursa Efek Nigeria (NGX) pada awal pekan ini, mencerminkan kepercayaan investor yang meningkat menjelang musim laporan keuangan kuartal kedua. Harga saham operator telekomunikasi itu melonjak ke N4.021,2 per lembar, didorong volume perdagangan 100.159 saham dengan dominasi aksi beli.
Pencapaian ini menjadi tonggak baru bagi Airtel Africa yang membuka perdagangan pekan ini di level N3.655,70. Meskipun volume transaksi tergolong tipis, saham berhasil menembus level resistensi dan mencatat kenaikan mingguan 10%. Kapitalisasi pasar perusahaan pun meroket ke N15,112 triliun, rekor tertinggi sepanjang masa. Angka ini sekaligus mengindikasikan potensi kenaikan lebih dari 30% dari level tertinggi 52 pekan, sejalan dengan target harga yang dipatok oleh CardinalStone Securities Limited.
Dalam riset terbarunya, CardinalStone Securities mempertahankan rekomendasi buy untuk saham AIRTELAFRI dan menaikkan target harga 12 bulan menjadi N5.818,43. Angka ini mengimplikasikan potensi upside 59,2% dari harga pasar saat itu. Analis firma tersebut menilai bahwa dengan rasio EV/EBITDA forward 4,1x, Airtel Africa diperdagangkan pada diskon dibandingkan median peers di Timur Tengah dan Afrika yang mencapai 4,8x. Diskon ini menunjukkan nilai relatif yang menarik, dengan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan pertumbuhan laba masa depan.
Kinerja keuangan Airtel Africa menjadi fondasi utama optimisme ini. Perusahaan melaporkan lonjakan pendapatan 29,4% year-on-year pada tahun fiskal 2025/2026, kontras dengan penurunan 0,5% pada periode sebelumnya. Analis CardinalStone mengaitkan rebound ini dengan kenaikan tarif di Nigeria, penetrasi smartphone yang lebih cepat, peningkatan konsumsi data, serta adopsi uang mobile yang lebih luas. Di Nigeria, permintaan tetap solid didukung stabilitas ekonomi, inflasi yang terkendali, dan suku bunga yang lebih rendah. Kualitas pertumbuhan pun meningkat: penetrasi smartphone naik 5,3 poin persentase menjadi 54,9%, sementara penggunaan data per pelanggan melonjak dari 11,1 GB/bulan menjadi 13,7 GB/bulan. Alhasil, pendapatan data melesat 63,6% pada periode laporan.
CardinalStone juga merevisi proyeksi pendapatan ke depan, dengan mempertimbangkan belanja modal (CAPEX) yang lebih tinggi di pasar-pasar utama. Meskipun biaya energi diperkirakan meningkat, strategi optimalisasi biaya diyakini dapat mengompensasi sebagian tekanan tersebut, sehingga margin laba operasi rata-rata diperkirakan stagnan di 33,3% dalam lima tahun ke depan, sedikit di bawah proyeksi sebelumnya 33,8%. Penyesuaian juga dilakukan pada metrik valuasi, termasuk equity risk premium (ERP) yang turun dari 13,8% menjadi 12,6%, dan equity beta yang naik dari 1,11 menjadi 1,28, mencerminkan perbaikan makro dan perubahan relatif imbal hasil.
Bagi investor Indonesia, pergerakan saham Airtel Africa ini relevan mengingat eksposur perusahaan terhadap pasar berkembang Afrika yang memiliki karakteristik serupa dengan Indonesia: pertumbuhan digital yang pesat, penetrasi smartphone yang meningkat, dan adopsi layanan keuangan digital. Airtel Africa, yang tercatat di Bursa London dan Nigeria, menjadi barometer bagi investor yang melirik sektor telekomunikasi di kawasan Afrika. Dengan target harga yang menjanjikan upside signifikan, saham ini menarik perhatian pelaku pasar global, termasuk institusi keuangan di Asia Tenggara yang kerap membandingkan valuasi antar emerging market.
Ke depan, CardinalStone memperkirakan momentum pendapatan Airtel Africa akan berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah, dengan estimasi pendapatan grup mencapai US$7,8 miliar pada FY'26/27 dan US$9,2 miliar pada FY'27/28. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah Airtel Africa mempertahankan laju pertumbuhan ini di tengah tekanan biaya dan persaingan ketat di pasar Afrika? Atau akankah target harga N5.818,43 tercapai lebih cepat dari perkiraan?



