Jelang Piala Dunia 2026, Skuad Inggris Gelar Makan Malam di Miami
Baca dalam 60 detik
- Para pemain timnas Inggris mengadakan acara kebersamaan di Miami setelah diberikan waktu istirahat oleh pelatih Thomas Tuchel.
- Tuchel menerapkan pendekatan santai selama pemusatan latihan di Florida, namun tetap tegas saat performa tim menurun.
- Setelah tiba di Kansas City, akses pemain untuk keluar hotel akan diperketat demi fokus pada pertandingan.

Menjelang laga perdana Piala Dunia 2026 melawan Kroasia pada 17 Juni, skuad Inggris memanfaatkan waktu luang dengan menggelar makan malam bersama di Miami. Inisiatif ini muncul setelah pelatih Thomas Tuchel memberikan izin kepada para pemainnya untuk beristirahat sejenak dari jadwal latihan intensif di Florida.
Sejak tiba di markas mereka di West Palm Beach pada 1 Juni, para pemain telah menjalani serangkaian sesi latihan berat di bawah terik matahari. Kondisi ini sengaja diciptakan untuk membiasakan tim dengan cuaca panas dan lembap yang akan mereka hadapi selama turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Perjalanan ke Miami menjadi kesempatan terakhir untuk bersantai sebelum skuad terbang ke Kansas City pada akhir pekan, yang akan menjadi basis mereka selama babak final.
Inggris baru saja menuntaskan laga uji coba terakhir dengan kemenangan 3-0 atas Kosta Rika di Orlando pada Rabu. Setelah pertandingan, tim langsung kembali ke West Palm Beach untuk menjalani pertandingan tertutup melawan klub lokal Miami United pada Kamis. Begitu laga tersebut usai, Tuchel menjanjikan waktu libur selama satu setengah hari dan meminta para pemain kembali ke base camp pada Jumat malam setelah acara makan malam.
Tuchel dikenal berusaha menciptakan atmosfer santai selama kamp latihan. Namun, ia tak segan menunjukkan ketidaksenangannya saat tim tampil kurang meyakinkan dalam kemenangan 1-0 atas Selandia Baru. Menurut sumber internal, pelatih asal Jerman itu secara blak-blakan mengungkapkan kekecewaannya di ruang ganti saat jeda pertandingan. Di sisi lain, para pemain menikmati waktu senggang dengan bermain golf, bahkan ditemani oleh pemenang lima turnamen mayor Amerika, Brooks Koepka. Legenda Ryder Cup Eropa, Ian Poulter, juga menyempatkan diri berkunjung setelah laga melawan Kosta Rika.
Selama ini, keluarga pemain diizinkan masuk ke area kamp dan waktu luang setelah latihan menjadi milik pribadi masing-masing. Namun, begitu tiba di Kansas City, aturan diperkirakan akan diperketat. Di bawah era pelatih sebelumnya, Gareth Southgate, pemain biasanya diizinkan bertemu keluarga segera setelah pertandingan dan keesokan harinya. Kebijakan serupa kemungkinan akan diterapkan oleh Tuchel, tetapi akses untuk keluar hotel akan lebih dibatasi demi meningkatkan fokus pada persiapan laga.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pendekatan Tuchel ini menarik untuk dicermati. Pelatih top Eropa seperti Tuchel kerap menjadi tolok ukur dalam mengelola tekanan turnamen besar. Gaya kepemimpinan yang memadukan kedisiplinan dan kelonggaran bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub di Indonesia yang sering menghadapi jadwal padat. Apakah strategi ini akan membawa Inggris melaju jauh di Piala Dunia 2026? Semua akan terjawab saat turnamen dimulai.

