Metode Shettles dan Mitos Penentu Jenis Kelamin: Ilmu Bicara, Peluang Tetap 50:50
Baca dalam 60 detik
- Klaim metode Shettles yang mengatur waktu dan posisi seks untuk menentukan jenis kelamin bayi tidak didukung bukti ilmiah.
- Penelitian terbaru menunjukkan faktor biologis kompleks, bukan intervensi sederhana, yang memengaruhi variasi kecil jenis kelamin dalam keluarga.
- Dokter diimbau mengedukasi pasien bahwa kehamilan alami tidak bisa dikendalikan untuk memilih jenis kelamin anak.

Di tengah hiruk-pikuk media sosial awal tahun ini, metode Shettles kembali mencuat sebagai "panduan" menentukan jenis kelamin anak—padahal berbagai studi ilmiah telah membantah efektivitasnya. Klaim bahwa hubungan seks pada waktu tertentu, posisi tertentu, atau manipulasi pH vagina bisa "memprogram" bayi laki-laki atau perempuan hanyalah mitos yang bertahan karena peluang dasar 50:50.
Metode yang diperkenalkan oleh dokter kandungan AS, Landrum Shettles, pada 1960-an ini berasumsi bahwa sperma pembawa kromosom Y (laki-laki) lebih cepat namun rapuh, sedangkan sperma X (perempuan) lebih lambat tapi tahan lama. Dari situ lahir anjuran: berhubungan intim dekat ovulasi untuk anak laki-laki, dan beberapa hari sebelumnya untuk anak perempuan. Namun, riset konsisten menunjukkan tidak ada hubungan antara waktu koitus dan jenis kelamin bayi.
Di Indonesia, sebagian praktisi kesehatan masih merekomendasikan metode ini. Padahal, selain tidak terbukti, saran membilas vagina dengan larutan garam atau cairan khusus justru berisiko mengganggu flora normal dan memicu infeksi. Pola makan tinggi natrium/kalium untuk anak laki-laki atau kaya kalsium/magnesium untuk anak perempuan juga tak memiliki landasan ilmiah yang kuat.
Fenomena "fragile male"—janin laki-laki lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan—menjadi salah satu penjelasan mengapa faktor seperti suhu ekstrem bisa memengaruhi rasio jenis kelamin, tetapi bukan sebagai alat kontrol. Studi terbaru justru mengungkap bahwa penentuan jenis kelamin lebih menyerupai "koin berbobot": setiap pasangan memiliki kecenderungan biologis kecil, misalnya perempuan yang melahirkan di usia lebih tua cenderung memiliki anak dengan jenis kelamin sama dalam satu keluarga. Efek ini, meski menarik, terlalu kecil untuk dijadikan dasar intervensi klinis.
Lantas mengapa metode Shettles tetap populer? Jawabannya sederhana: karena peluang dasarnya 50:50, setiap metode akan tampak berhasil pada separuh kasus. Ditambah bias konfirmasi—pengalaman pribadi yang dianggap sebagai bukti—mitos pun terus lestari. Para ahli menekankan bahwa tidak ada cara alami yang terbukti konsisten untuk memilih jenis kelamin anak.
"Dalam kehamilan alami, tidak ada metode yang terbukti efektif menentukan jenis kelamin bayi secara konsisten. Peluangnya tetap mendekati 50:50," tulis para peneliti dalam kesimpulan studi mereka.
Bagi calon orang tua, fokus pada kehamilan sehat jauh lebih bermakna daripada mengejar jenis kelamin tertentu. Menjaga siklus menstruasi teratur, berat badan ideal, nutrisi seimbang, mengontrol penyakit penyerta, serta memastikan kualitas sperma yang baik adalah langkah-langkah yang terbukti mendukung kesuburan dan kesehatan janin. Lain kali jika mendengar klaim "tips jitu" penentu jenis kelamin, ingatlah bahwa sains berbicara lain: alam memiliki aturannya sendiri, dan yang terbaik adalah menerima apa pun anugerah yang diberikan.



