Restorasi Gambut Terbukti Efektif Menekan Karhutla, Nasib Program Kini Dipertanyakan
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru mengonfirmasi bahwa program restorasi gambut mampu menurunkan titik api hingga 22% saat El Niño 2019, menandai intervensi manusia yang signifikan.
- Dengan berakhirnya tugas BRGM pada 2024, keberlanjutan restorasi dipertanyakan di tengah ancaman El Niño yang diprediksi kembali pada 2026.
- Tanpa perawatan, efektivitas sekat kanal menurun drastis; sementara sumur bor terbukti lebih andal namun membutuhkan komitmen jangka panjang.

Kebakaran hutan dan lahan gambut yang meluluhlantakkan 2,6 juta hektare pada 2015 silam meninggalkan trauma mendalam. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa upaya restorasi besar-besaran yang digalakkan setelahnya tidak sia-sia. Saat El Niño melanda lagi pada 2019, area gambut yang telah dipulihkan mengalami penurunan kepadatan titik api hingga 22%, menjadi bukti bahwa intervensi manusia mampu meredam dampak kekeringan ekstrem.
Program restorasi nasional dimulai dengan pembentukan Badan Restorasi Gambut (BRG) pada 2016, yang kemudian melebar menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) pada 2020. Selama masa tugasnya, BRGM melaporkan telah merestorasi sekitar 1,6 juta hektare lahan gambut. Namun, sejak lembaga ini dibubarkan pada 2024 dan tugasnya dialihkan ke lintas kementerian, masa depan restorasi menjadi tanda tanya. Padahal, ancaman kebakaran belum sirna. Sepanjang Januari hingga Juni 2026 saja, lebih dari 100 ribu hektare lahan hangus terbakar, dan El Niño diprediksi kembali menguat.
Peneliti dari berbagai universitas menggunakan metode pencocokan untuk membandingkan area yang direstorasi dan yang tidak di Sumatra dan Kalimantan. Hasilnya, mereka berhasil memisahkan pengaruh cuaca dari dampak restorasi. Dua teknik utama dievaluasi: pembuatan sekat kanal dan sumur bor. Sumur bor terbukti lebih efektif, menurunkan hingga 2,6 titik api per km², sementara sekat kanal hanya 1,1 titik per km². Sumur bor bekerja aktif memompa air ke lahan kering, sedangkan sekat kanal bersifat pasif dan rentan rusak tanpa perawatan. Temuan menunjukkan bahwa hanya sekat kanal berumur sekitar setahun yang benar-benar ampuh.
Meski restorasi membuahkan hasil, kebakaran tetap mengintai. Di area yang sudah dipulihkan, kepadatan titik panas masih 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan hutan gambut alami. Tinggi muka air di lokasi intervensi pun kerap berada di bawah ambang aman 40 cm. Artinya, restorasi bukanlah solusi pamungkas. Perlindungan terhadap hutan gambut yang masih utuh harus tetap menjadi prioritas, bersamaan dengan pemulihan lahan rusak. Riset juga mengingatkan bahwa tanpa pemeliharaan, banyak sekat kanal rusak—hingga 70% menurut Pantau Gambut—sehingga manfaat restorasi bisa hilang.
Ke depan, pemerintah perlu memastikan keberlanjutan program meski BRGM telah bubar. Strategi restorasi harus disesuaikan dengan kondisi lapangan: sumur bor lebih cocok untuk area kering, sementara sekat kanal perlu dipasang secara berkelompok dan dirawat rutin. Dengan ancaman El Niño yang semakin sering akibat perubahan iklim, pertanyaan kuncinya adalah: akankah Indonesia belajar dari masa lalu dan terus berinvestasi pada restorasi gambut, atau membiarkan kebakaran 2015 terulang lagi?



