Harisyah dan Perjuangan Memulihkan Mangrove Tanjung Kuras: Dari Lumpur ke Harapan Baru
Baca dalam 60 detik
- Harisyah, mantan kepala kampung, memimpin restorasi mangrove di Tanjung Kuras, Riau, yang rusak akibat penebangan dan pencemaran.
- Kolaborasi dengan Yayasan Gambut, Global Environment Centre, dan Aramco Asia Singapura menghidupkan kembali ekosistem pesisir dan ekonomi lokal.
- Upaya ini menjadi model pemulihan berbasis masyarakat yang mengintegrasikan konservasi, ekowisata, dan perlindungan dari abrasi dan cuaca ekstrem.

Petang di tepi Sungai Siak, Harisyah masih asyik menancapkan potongan kayu di sepanjang pesisir. Lumpur melekat di celananya, keringat membasahi bajunya. Pria 53 tahun ini tengah menyiapkan lahan tanam mangrove bersama puluhan warga dan siswa sekolah yang hari itu libur. Bukan sekadar menanam pohon, ia sedang membangun benteng terakhir bagi Kampung Tanjung Kuras yang pinggirannya terus tergerus abrasi.
Harisyah, yang akrab dipanggil Haris, mulai resah saat melihat hutan mangrove di kampungnya habis ditebang untuk kayu arang dan tercemar tumpahan minyak. Dampaknya sudah nyata: air Sungai Siak saat pasang besar merendam rumah warga, angin puting beliung menerbangkan kubah masjid, dan biota laut seperti lokan serta kepiting bakau mulai sulit ditemukan. โAbrasi tidak bisa berhenti jika mangrove tidak pulih,โ kata Mulyadi, Direktur Yayasan Gambut, mitra restorasi.
Perjalanan Haris tidak sekejap. Sejak 2011, ia mengikuti pelatihan budidaya perikanan dan mulai memahami fungsi mangrove sebagai penyaring alami. Namun, butuh tujuh tahun sebelum aksinya benar-benar dimulai. Ketika terpilih sebagai Penghulu (Kepala Kampung) pada 2018, ia mendirikan Kelompok Masyarakat Belatram (Bela Adat Tradisi dan Alam) dan mengalokasikan dana desa untuk pelatihan pemetaan partisipatif. Bantuan pertama datang dari BPDAS Indragiri Rokan berupa 10.000 bibit mangrove.
Setelah masa jabatannya habis, Haris terus berjuang tanpa jabatan resmi. Ia kembali menjalin kerja sama dengan Yayasan Gambut, Global Environment Centre (GEC), dan Aramco Asia Singapura pada 2024. Program ini tidak hanya menanam mangrove, tetapi juga memberikan pelatihan alternatif ekonomi seperti pembuatan gula nipah dan pengembangan ekowisata. โTanam mangrove berarti menanam harapan,โ ujar Nagarajan Rengasamy, Manajer Program GEC dari Malaysia.
Beting Selayang menjadi fokus utama. Pantai satu-satunya di Siak ini nyaris kehilangan seluruh tutupan mangrovenya. Padahal, kawasan ini memiliki keunikan tiga persimpangan arus dan berbatasan langsung dengan gambut. Haris tidak hanya ingin memulihkan ekosistem, tetapi juga menjadikannya destinasi wisata bahari yang melibatkan tradisi lokal. โTuhan menciptakan alam untuk kami jaga. Kalau rusak, anak cucu yang menanggung,โ katanya.
Dampak rehabilitasi mulai terasa. Nelayan kembali melaut, ikan besar seperti kurau dan sembilang muncul lagi. Lokan yang sempat hilang kini dijual ke kampung tetangga. Namun, Haris menyadari tantangan belum selesai. Pencemaran dari penambangan minyak dan lalu lintas tongkang masih mengancam. Saat ini, pemerintah kampung sedang menyusun peraturan perlindungan mangrove yang mengatur pembuangan limbah dan aktivitas kapal tunda.
โPeraturan kampung akan menjadi payung hukum untuk menjaga pesisir,โ ujar Badaruddin, Penghulu Tanjung Kuras. Hendri Yadi dari Kecamatan Sungai Apit pun mendukung penuh, menekankan bahwa restorasi mangrove adalah investasi jangka panjang untuk generasi mendatang.
Ke depan, Haris berencana memperluas kawasan penanaman hingga 25 hektar. Ia masih bergulat dengan minimnya dukungan teknis dan kesadaran warga. Namun, ia tetap optimis. โKalau satu orang menanam, hasilnya mungkin kecil. Tapi kalau semua bergotong royong, hutan mangrove akan kembali,โ pungkasnya.



