Tersangka Utama Serangan Berlin Pride Tewas Ditembak, Polisi Tegaskan Motif Teror
Baca dalam 60 detik
- Abdul Ballout, pria 21 tahun yang diduga melakukan serangan di Berlin Pride, tewas setelah berlari ke arah polisi dengan senjata tajam.
- Serangan yang menewaskan satu orang dan melukai 29 lainnya dikategorikan sebagai aksi terorisme Islamis oleh otoritas Jerman.
- Pelaku diketahui memiliki catatan kriminal dan pernah dihukum karena mempersiapkan tindakan kekerasan subversif pada Mei lalu.

Polisi Jerman menembak mati tersangka utama serangan berdarah yang terjadi di dekat perayaan Berlin Pride, Minggu (26/7) malam, setelah perburuan selama sehari. Abdul Ballout, 21 tahun, warga negara Jerman keturunan Lebanon itu tewas ketika ia berlari ke arah petugas dengan senjata tajam di kawasan Tiergarten, Berlin.
Serangan yang bermula ketika sebuah minivan Citroen menabrak kerumunan pada Sabtu malam itu menewaskan seorang wanita dan melukai 29 orang lainnya, beberapa di antaranya mengalami luka kritis. Menurut Menteri Dalam Negeri Jerman Alexander Dobrindt, setelah kendaraan berhenti menabrak pohon, Ballout turun dan terus menyerang korban dengan parang. Polisi menyatakan insiden ini sebagai serangan teroris bermotif Islamis.
Ballout sudah dikenal aparat karena catatan kriminal yang panjang dan kecenderungan radikal. Dobrindt mengungkapkan bahwa pria tersebut baru dihukum pada Mei lalu atas tuduhan mempersiapkan tindakan kekerasan subversif, dengan hukuman penjara 1 tahun 10 bulan yang ditangguhkan. Media Jerman melaporkan bahwa hukuman tersebut terkait upaya Ballout bergabung dengan kelompok Negara Islam (IS) tahun lalu, namun gagal. Ia disebut bagian dari "adegan Islamis" di Jerman.
Kepolisian Berlin melakukan pencarian intensif selama Minggu, termasuk di kediaman pelaku yang berjarak 1 km dari lokasi kejadian. Petugas juga disiagakan di stasiun kereta, bandara, dan perbatasan. Saat ditemukan sekitar pukul 18.00 waktu setempat, Ballout langsung melawan dengan senjata tajam sehingga polisi mengambil tindakan tegas.
Serangan ini memicu gelombang kecaman dari politisi Jerman dan Eropa. Bendera di gedung Bundestag dikibarkan setengah tiang. Kanselir Friedrich Merz, dalam sebuah acara peringatan di Marienkirche, mengajak masyarakat untuk tidak gentar. "Mereka hanya punya satu tujuanโmemecah belah masyarakat kita," ujarnya. Tokoh masyarakat seperti Armin Duenhoelter, seorang seniman drag, bersikeras untuk kembali hadir di Pride tahun depan meski masih terguncang.
Insiden ini mengingatkan kembali pada rentetan serangan serupa yang mengguncang Jerman dalam beberapa tahun terakhir, seperti serangan truk di pasar Natal Berlin 2016 yang menewaskan 13 orang, dan insiden Magdeburg 2024 yang menewaskan enam orang. Peristiwa ini kembali memanaskan perdebatan soal imigrasi dan keamanan. Politisi dari partai sayap kanan Alternatif untuk Jerman (AfD) menyebutnya sebagai kegagalan total kebijakan keamanan pemerintah.
Bagi Indonesia, serangan di jantung Eropa ini menjadi pengingat akan ancaman terorisme yang masih nyata. Meskipun skala dan konteks berbeda, Indonesia memiliki pengalaman panjang menghadapi aksi teror, termasuk serangan bom bunuh diri di tempat ibadah dan keramaian. Peningkatan kewaspadaan di ruang publik, khususnya pada acara-acara besar yang melibatkan kelompok rentan, perlu terus diperkuat. Kolaborasi intelijen dengan negara-negara sahabat juga krusial untuk mencegah penyebaran radikalisme lintas batas.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah bagaimana Jerman memperketat pengawasan terhadap individu radikal yang sudah tercatat, mengingat Ballout bebas meski memiliki hukuman tertunda. Sistem peradilan Jerman akan kembali diuji, begitu pula keseimbangan antara kebebasan sipil dan keamanan publik.



