Fertilitas Berbayar: Lonjakan Kehamilan Ganda di Jepang Usai Asuransi Publik Menanggung Biaya Bayi Tabung
Baca dalam 60 detik
- Kasus kehamilan ganda akibat teknologi reproduksi bantuan di Jepang mencapai rekor 4.354 pada 2023, naik 36% dari tahun sebelumnya.
- Peningkatan ini dipicu oleh pasien yang memilih mentransfer lebih dari satu embrio untuk memaksimalkan peluang dalam jumlah siklus terbatas yang ditanggung asuransi.
- Para ahli mendesak evaluasi ulang sistem asuransi mengingat risiko tinggi kehamilan ganda bagi ibu dan beban pada layanan perinatal.

Jepang mencatat lonjakan signifikan kasus kehamilan ganda—seperti kembar dua, tiga, atau lebih—akibat teknologi reproduksi bantuan (assisted reproductive technology/ART) pada 2023, setahun setelah prosedur tersebut masuk dalam cakupan asuransi kesehatan publik. Sebuah studi terbaru mengungkapkan angka kehamilan ganda mencapai 4.354 kasus, naik 36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Peneliti menilai kenaikan ini berkaitan erat dengan perilaku pasien yang cenderung memilih transfer beberapa embrio sekaligus. Langkah itu ditempuh untuk meningkatkan peluang keberhasilan dalam jumlah siklus terbatas yang dijamin asuransi. Jepang membatasi transfer embrio maksimal enam kali bagi wanita yang memulai perawatan di bawah usia 40 tahun, dan tiga kali bagi mereka yang berusia 40–42 tahun.
Padahal, Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Jepang (JSOG) sejak 2008 merekomendasikan transfer satu embrio sebagai prinsip utama untuk menekan risiko kehamilan ganda. Rekomendasi itu sempat berhasil menurunkan angka kehamilan ganda dari di atas 10 persen pada 2007 menjadi sekitar 3 persen sejak 2014. Namun, setelah asuransi publik diperluas mencakup fertilisasi in vitro pada 2022, angka itu kembali naik menjadi 3,8 persen pada 2023.
Ayumu Ito, dosen di Toho University yang terlibat dalam studi, mengingatkan bahwa sistem asuransi perlu ditinjau ulang dengan mempertimbangkan beban kehamilan berisiko tinggi terhadap layanan perawatan perinatal. "Sistem asuransi harus dievaluasi dengan mempertimbangkan potensi beban kehamilan berisiko tinggi pada perawatan perinatal," ujarnya.
Fenomena ini menarik perhatian karena Jepang merupakan salah satu negara dengan tingkat kelahiran terendah di dunia. Kebijakan asuransi untuk ART diharapkan dapat mendorong angka kelahiran, namun efek samping berupa peningkatan kehamilan ganda justru membawa risiko kesehatan serius bagi ibu dan bayi. Kehamilan ganda meningkatkan kemungkinan kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan komplikasi lainnya.
Di Indonesia, meskipun asuransi kesehatan nasional belum mencakup program bayi tabung secara luas, kasus serupa patut diantisipasi. Beberapa rumah sakit dan klinik fertilitas di Indonesia mulai menawarkan program bayi tabung dengan biaya yang masih relatif mahal. Jika suatu saat asuransi publik atau swasta memperluas cakupan, risiko peningkatan kehamilan ganda bisa terulang. Pengalaman Jepang menjadi pelajaran berharga bahwa perlu ada keseimbangan antara aksesibilitas layanan dan keselamatan pasien.
Studi ini juga menemukan bahwa total prosedur ART meningkat secara keseluruhan, dengan transfer dua atau lebih embrio paling banyak terjadi pada kelompok usia 41 tahun ke atas. Hal ini menunjukkan bahwa pasien yang lebih tua cenderung mengambil risiko lebih besar untuk mencapai kehamilan, meskipun angka keberhasilan per siklus lebih rendah.
Ke depan, Jepang dihadapkan pada dilema: mempertahankan kebijakan asuransi yang meringankan beban biaya pasien, atau merevisinya untuk menekan angka kehamilan ganda dan risiko kesehatan yang menyertainya. Pertanyaan yang muncul adalah apakah sistem asuransi dapat dirancang ulang untuk mendorong transfer embrio tunggal tanpa mengurangi akses pasien terhadap perawatan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5222523/original/087946000_1747400362-20250516-Kemacetan-ANG_8.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8260713/original/046879300_1781630997-IMG-20260617-WA0000-2.jpg)