Emmy Rossum Batasi Screen Time Demi Anak: ‘Algoritma Mengacaukan Pikiran Saya’
Baca dalam 60 detik
- Emmy Rossum mengakui anak-anaknya bisa merasakan cara ia berbicara pada diri sendiri, mendorongnya untuk lebih positif.
- Aktris itu berencana menggunakan aplikasi Brick untuk membatasi akses ponsel demi mengurangi dampak algoritma media sosial.
- Ia ingin anak-anaknya tumbuh dengan kemampuan menjadi sahabat terbaik bagi diri sendiri, bukan hanya mengandalkan orang lain.

Emmy Rossum, aktris yang dikenal lewat serial Shameless dan film Furious, tengah berupaya keras memperbaiki cara pandangnya terhadap diri sendiri. Bukan tanpa alasan: ia yakin anak-anaknya yang berusia lima dan tiga tahun mampu menangkap getaran negatif dari pola pikir sang ibu. Rossum pun memutuskan membatasi konsumsi konten digital sebagai langkah awal.
Dalam wawancara dengan People, Rossum mengaku kerap terjebak dalam pusaran media sosial yang justru memperburuk suasana hati. Ia menilai algoritma platform digital seperti “mengacaukan otak” dan memicu perbandingan tak sehat yang berujung pada ketidakpuasan terhadap diri sendiri. “Saya terlalu banyak online, lalu harus offline, dan saya berpikir untuk membeli Brick,” ujarnya, merujuk pada aplikasi yang memblokir sementara aplikasi pengganggu.
Rossum tidak sendirian. Fenomena digital detox atau detoksifikasi digital makin populer di kalangan orangtua milenial dan Gen Z, termasuk di Indonesia. Menurut survei We Are Social pada 2023, rata-rata pengguna internet di Indonesia menghabiskan hampir delapan jam per hari di dunia maya—lebih tinggi dari rata-rata global. Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Dewi Fatmawati, mengatakan bahwa kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial (compare and despair) dapat memicu kecemasan dan depresi, terutama pada ibu muda.
Rossum menekankan bahwa anak-anaknya bisa “membaca pikirannya” dan menyerap cara ia memperlakukan diri sendiri. “Saya harus lebih hati-hati dengan kata-kata dalam kepala saya,” katanya. Ia berharap dengan menjadi sahabat terbaik bagi dirinya sendiri, anak-anaknya kelak mampu melakukan hal serupa. “Saya ingin mereka memiliki satu sama lain, dan menjadi sahabat mereka sendiri saat saya tidak ada.”
Langkah Rossum ini mengingatkan pada tren gentle parenting yang mengedepankan empati dan kesadaran diri. Di Indonesia, komunitas orangtua sadar digital mulai bermunculan, seperti Kelas Digital Parenting yang digagas oleh psikolog anak @parentalku. Mereka mendorong pengaturan batas waktu layar dan penggantian dengan aktivitas luar ruangan—seperti yang dilakukan Rossum dengan duduk di bangku taman Central Park sambil memandangi pohon.
Pertanyaan yang muncul kemudian: akankah tren detoksifikasi digital ini menjadi norma baru dalam pengasuhan anak di era serba daring? Atau justru akan tetap menjadi tantangan bagi orangtua yang bergantung pada teknologi untuk kerja dan hiburan? Yang jelas, pengakuan seorang bintang Hollywood seperti Emmy Rossum setidaknya membuka percakapan yang lebih luas tentang pentingnya menjaga kesehatan mental orangtua demi masa depan anak-anak.



