Tiga Pendiri Startup AI China yang Menantang Hegemoni Amerika
Baca dalam 60 detik
- Liang Wenfeng, pendiri DeepSeek, menjadi kreator model AI terkaya di dunia dengan kekayaan US$37,9 miliar setelah pendanaan terbaru.
- Z.ai di bawah Tang Jie memilih fokus pada riset kecerdasan umum buatan (AGI) ketimbang komersialisasi jangka pendek.
- Strategi open-source ala China memungkinkan akses model AI berbiaya rendah bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.

China kini tak lagi sekadar mengekor inovasi teknologi global. Tiga pendiri startup kecerdasan buatan (AI) negeri Tirai Bambu—DeepSeek, Z.ai, dan Moonshot AI—telah memetakan ulang peta persaingan dengan pendekatan yang berani: model terbuka (open-weight) berbiaya rendah, tanpa meninggalkan ambisi mencapai kecerdasan umum buatan (AGI).
Di balik gema persaingan AS-China di sektor AI, wajah-wajah ini mulai dikenal. Liang Wenfeng, 41 tahun, pendiri DeepSeek, adalah mantan pengelola dana lindung nilai kuantitatif High-Flyer yang menginvestasikan keuntungan besar dalam 10.000 chip Nvidia sebelum embargo AS berlaku. Langkah itu membuat DeepSeek, yang berdiri pada 2023, memiliki daya komputasi super saat model R1-nya mengguncang Silicon Valley pada 2025 dengan klaim kualitas setara rival AS namun dengan biaya jauh lebih murah. Kekayaan Liang kini mencapai US$37,9 miliar menurut Bloomberg Billionaire Index—jauh melampaui pendiri Anthropic dan presiden OpenAI.
Berbeda dengan Liang yang sempat enggan menerima pendanaan eksternal, DeepSeek akhirnya mengantongi US$7,4 miliar pada putaran pertama untuk mengembangkan chip AI sendiri. Namun, Liang tetap teguh pada visinya agar China bertransformasi dari sekadar pengguna teknologi menjadi kontributor, seperti diungkapkannya dalam wawancara langka pada 2024.
Di kampus Tsinghua, profesor Tang Jie, 48 tahun, membesarkan Z.ai (dulu Zhipu AI) sebagai laboratorium yang mengutamakan riset AGI. Dalam memo internal awal tahun ini, Tang menuliskan keyakinannya bahwa gelombang evolusi teknologi tak terelakkan menuju AGI dan superinteligensia buatan. Z.ai sengaja memperlambat komersialisasi aplikasi demi mengalokasikan semua sumber daya ke puncak teknologi AGI. "Jika kita tidak mencapai puncak, kita gagal," tulisnya.
Sementara itu, Moonshot AI yang didirikan Yang Zhilin, 33 tahun, mencuri perhatian setelah merilis Kimi K3 pada Juli—model AI terbuka terbesar di dunia. Lulusan Carnegie Mellon University yang sempat diincar Apple ini memilih pulang ke China dan mendirikan Moonshot pada 2023. Perusahaan yang telah mengumpulkan lebih dari US$5,5 miliar dalam pendanaan ini harus menghentikan sementara langganan baru karena lonjakan permintaan. "GPU kami merasakannya," cuit akun resmi Moonshot.
Menurut Lin William Cong, profesor di Nanyang Technological University, tiga start-up ini mewakili koreksi atas kecenderungan China yang terlalu fokus pada komersialisasi dan aplikasi. "Mereka membuktikan perusahaan China mampu menghasilkan inovasi orisinal, bukan sekadar pengikut cepat," katanya. Namun, Cong mengingatkan bahwa strategi open-weight ala China bukanlah anti-komersial. "DeepSeek dengan penetapan harga agresif dan Z.ai dengan bisnis enterprise adalah tindakan komersial—hanya saja tunduk pada misi riset, bukan sebaliknya."
Implikasi bagi Indonesia, yang tengah membangun ekosistem AI, cukup signifikan. Model-model open-weight yang murah membuka akses bagi pengembang lokal untuk bereksperimen tanpa harus mengeluarkan biaya mahal. Namun, Kong Tuan Yuen dari National University of Singapore memperingatkan soal keamanan. "Keterbukaan kode membuat model rentan disalahgunakan oleh pihak jahat, dan mengurangi kemampuan regulasi global," ujarnya.
Pertanyaan besarnya kini bukan hanya soal siapa yang mencapai AGI lebih dulu, melainkan apakah persaingan ini mendorong tiap pemain memotong sudut keamanan. "Kita berutang pada generasi mendatang untuk memastikan keselamatan lebih penting daripada menjadi yang pertama," pungkas Cong.



