Kebakaran Hutan Eropa: Lebih dari 250.000 Jiwa Mengungsi, Api Mendekati Kota Anggur Bordeaux
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran hutan di barat daya Prancis dan Spanyol memaksa evakuasi total lebih dari 250.000 orang, dengan api yang mendekati kawasan metropolitan Bordeaux.
- Kondisi angin kencang dan gelombang panas memperparah api yang membakar 42.000 hektare lahan, setara empat kali luas Kota Paris.
- Dampak terhadap kebun anggur Bordeaux berpotensi mengganggu pasokan anggur global, termasuk Indonesia yang merupakan importir utama.

Kebakaran hutan yang melanda barat daya Prancis dan sebagian Spanyol telah memaksa lebih dari 250.000 orang mengungsi, menjadikannya salah satu bencana kebakaran terbesar di Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Api yang terus bergerak tidak menentu kini hanya berjarak 15 kilometer dari pusat Kota Bordeaux, kawasan penghasil anggur premium dunia.
Sejak pertengahan pekan lalu, kobaran api di wilayah Gironde, tempat Bordeaux berada, telah membakar 42.000 hektare lahan—setara tujuh kali luas Manhattan atau empat kali luas Kota Paris. Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyebut situasi "sangat tidak menguntungkan" setelah api yang tadinya mereda kembali berkobar pada Sabtu malam, bahkan menciptakan angin dan petir sendiri.
"Api menjadi sangat ganas dan tidak terduga. Ia menghasilkan anginnya sendiri dan bergerak secara tak beraturan menuju kawasan metropolitan Bordeaux," tulis Nunez di media sosial. Meski demikian, ia menambahkan bahwa api mulai sedikit tenang di akhir malam.
Kebakaran ini bukan hanya soal luas lahan yang hangus. Fenomena langka yang disebut "firestorm"—badai api yang menyuplai dirinya sendiri—terjadi beberapa kali, bahkan menghasilkan sambaran petir yang memicu titik api baru. Kepala Pemadam Kebakaran Gironde Marc Vermeulen menganalogikannya dengan menghadapi angin topan. "Seperti berhadapan dengan badai," katanya.
Wali Kota Bordeaux Thomas Cazenave menyatakan bahwa evakuasi kota yang berpenduduk 268.000 jiwa belum menjadi opsi saat ini. "Api sudah di gerbang kawasan metropolitan, tapi kami belum sampai pada titik evakuasi massal," ujarnya. Pemerintah setempat menyulap pusat pameran menjadi tempat penampungan darurat bagi ribuan pengungsi, termasuk lansia dari panti jompo.
Di Spanyol, kebakaran tak kalah dahsyat. Di sekitar Madrid dan wilayah Valencia, sedikitnya 76.000 orang telah dievakuasi dan 30.000 lainnya diimbau tetap di rumah. Satu orang tewas di pinggiran Valencia, menjadi korban jiwa pertama di negara itu. Perdana Menteri Pedro Sanchez mengakui masih ada jam-jam sulit di depan, meskipun kondisi malam mulai terkendali. Para pengungsi seperti Rocio Dominguez yang meninggalkan rumahnya di Chapineria, barat Madrid, hanya bisa pasrah. "Semua barang, semua kenangan, semuanya hilang," katanya.
Kebakaran ini juga memicu kekhawatiran akan dampak pada sektor pertanian dan pariwisata. Kawasan Gironde merupakan pusat penghasil anggur berkualitas internasional. Beberapa kebun anggur di pinggiran Bordeaux dilaporkan terancam, meskipun belum ada kerusakan langsung. Bagi Indonesia yang mengimpor anggur dalam jumlah signifikan—terutama dari Prancis—gangguan pasokan bisa berujung pada lonjakan harga di pasar domestik. Di sisi lain, gelombang panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan di Eropa menjadi pengingat bagi negara tropis seperti Indonesia akan risiko kebakaran hutan yang dipicu perubahan iklim.
Paus Leo XIV dalam doa Angelus hari Minggu menyerukan solidaritas bagi para korban dan petugas penyelamat. Ia merujuk pada "kebakaran hutan yang menghancurkan" di Prancis dan Spanyol. Sementara itu, cuaca panas diperkirakan kembali melanda sejak Selasa mendatang, yang dapat memperumit upaya pemadaman. Pejabat setempat melarang wisatawan datang ke kawasan pantai Atlantik dan hutan terbesar Prancis hingga api benar-benar terkendali.
Pertanyaannya kini, apakah Eropa mampu membendung musim kebakaran yang semakin ekstrem? Dengan laju pemanasan global yang terus meningkat, peristiwa seperti ini bukanlah yang terakhir. Prancis dan Spanyol harus bersiap dengan strategi mitigasi yang lebih agresif, sementara negara-negara lain—termasuk Indonesia—dapat memetik pelajaran dari krisis ini untuk memperkuat sistem peringatan dini dan respons kebakaran hutan.



