Tunggakan Gaji PSBS Biak: George Brown Beri Ultimatum, Siap Lapor FIFA
Baca dalam 60 detik
- Mantan bek PSBS Biak, George Brown, mengancam akan melaporkan klub ke FIFA jika tunggakan gaji tidak dibayar hingga 10 Juni 2026.
- Brown mengaku gajinya tertunggak 3,5 bulan, sementara beberapa pemain dan staf bahkan 4 bulan, dengan fasilitas latihan yang tidak memadai.
- Kasus ini menyoroti lemahnya verifikasi keuangan klub di Liga Indonesia, yang berpotensi mencoreng kredibilitas kompetisi.
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4576444/original/089201600_1694751195-20230915BL_Latihan_Timnas_Indonesia_U-24_untuk_Asian_Games_2022_21.JPG)
Mantan bek PSBS Biak, George Brown, memberikan ultimatum kepada manajemen klub untuk melunasi tunggakan gaji yang mencapai hampir empat bulan. Jika tidak ada itikad baik hingga 10 Juni 2026, pemain berdarah Indonesia-Inggris itu siap membawa kasus ini ke FIFA dan menempuh jalur hukum.
Brown, yang memperkuat PSBS dalam 14 pertandingan musim lalu, mengaku bahwa haknya belum dibayar penuh meski kompetisi BRI Super League 2025/2026 telah berakhir pada akhir Mei. Ia bersama beberapa pemain lain memilih hengkang sebelum musim usai karena situasi finansial klub yang kian tidak kondusif. "Ada pemain dan staf yang empat bulan gajinya belum dibayar. Kalau saya 3,5 bulan. Saya dan beberapa pemain yang sering main dibayar 50 persen, satu bulan untuk diam," ungkap Brown kepada Bola.com, Selasa (9/6/2026).
Bukan hanya soal gaji, kondisi internal tim disebut jauh dari kata layak. Brown mengungkapkan bahwa PSBS kesulitan menyediakan lapangan latihan yang memadai. "Sampai kita tidak ada lapangan untuk latihan, cuma official training dan langsung main saja biasanya. Hotel juga tidak dibayar sampai pernah kita ditahan saat mau ke bandara ketika di Bali," ujarnya. Pengalaman ini ia nilai sebagai yang terburuk sepanjang karier profesionalnya.
Brown menegaskan bahwa manajemen PSBS hanya berdalih menunggu subsidi dari liga, namun hingga kompetisi berakhir tidak ada realisasi. "Selama ini manajemen cuma sampaikan setiap Minggu bilang liga mau kasih subsidi. Namun, belum tahu kapan, sampai sekarang setelah kompetisi selesai mereka tidak ada itikad baik sama sekali," katanya. Ia berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi klub lain dan Liga Indonesia agar verifikasi keuangan klub dilakukan secara ketat sebelum musim bergulir.
Kasus tunggakan gaji di PSBS Biak bukanlah yang pertama di sepak bola Indonesia. Beberapa klub sebelumnya juga tersandung masalah serupa, yang kerap berujung pada sanksi FIFA. Jika Brown benar-benar melapor, PSBS berpotensi terkena larangan transfer atau bahkan degradasi. Pertanyaannya, akankah PSSI dan operator liga bertindak preventif sebelum citra kompetisi semakin tercoreng?



