Defoe Tinggalkan Woking setelah Hanya Empat Bulan, Direktur Ungkap Kekhawatiran di Balik Layar
Baca dalam 60 detik
- Jermain Defoe resmi berpisah dengan Woking setelah hanya empat bulan menukangi tim National League tersebut.
- Direktur sepakbola Woking, Jody Brown, mengakui adanya kekhawatiran yang berkembang dari pemain dan staf menjelang kepergian Defoe.
- Kepergian Defoe terjadi dua pekan sebelum laga pembuka musim baru, memicu spekulasi tentang penyebab sebenarnya.

Jermain Defoe, mantan striker timnas Inggris, secara mengejutkan meninggalkan kursi manajer Woking setelah hanya empat bulan menjabat, dengan direktur sepakbola klub Jody Brown mengungkapkan bahwa kekhawatiran dari berbagai pihak di dalam klub menjadi pemicu utama perpisahan tersebut.
Keputusan yang diumumkan secara tiba-tiba ini terjadi hanya dua pekan sebelum laga perdana Woking di musim baru melawan Sutton United. Defoe, 43 tahun, hanya menangani enam pertandingan liga selama masa baktinya. Brown, dalam pernyataan resmi, mengatakan bahwa meskipun Defoe selalu menunjukkan antusiasme, dalam beberapa pekan terakhir muncul masukan dari pemain, staf, dan departemen lain yang mengindikasikan adanya masalah.
โUmpan balik dari Jermain selalu positif, dan dia kerap menyampaikan kegembiraannya untuk musim ini, baik secara terbuka maupun pribadi. Saya paham keterkejutan dan spekulasi yang muncul setelah kepergian mendadaknya,โ ujar Brown. Namun, ia mengakui bahwa feedback dari internal klub justru menunjukkan kekhawatiran. Brown kemudian meminta Defoe dan asistennya, Paul Bracewell, untuk menyusun laporan ringkas yang mencakup kedalaman skuad, target rekrutan, dan tantangan operasional. Laporan itu tidak pernah diserahkan meskipun sudah diminta berkali-kali.
Pertemuan direncanakan untuk membahas persiapan musim, namun Defoe dan Bracewell tidak hadir dalam pertemuan tersebut maupun sesi latihan hari itu. Brown menegaskan bahwa selama masa kepemimpinan Defoe, tidak pernah ada keluhan serius yang disampaikan langsung oleh Defoe kepadanya. โSaya tidak akan berspekulasi mengenai alasannya,โ tambah Brown.
Defoe sendiri mengakui bahwa pengalaman di Woking menjadi pelajaran berharga. โIni adalah pengalaman manajerial yang membuka mata dan pasti akan membuat saya lebih kuat untuk tantangan berikutnya,โ ujarnya. Brown, yang bertanggung jawab atas perekrutan Defoe, menyatakan bahwa kesuksesan sebagai pemain tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan memimpin. โSeperti yang sering kita lihat, keberhasilan sebagai pemain tidak selalu terbawa ke dunia manajemen. Saya berharap dia sukses dalam langkah selanjutnya,โ kata Brown.
Di Indonesia, fenomena pemain bintang yang gagal sebagai pelatih juga sering terjadi, misalnya dalam Liga 1 dan 2. Kasus Defoe menjadi pengingat bahwa transisi dari pemain ke manajer membutuhkan lebih dari sekadar reputasi di lapangan. Kedalaman taktik, komunikasi dengan pemain, dan kemampuan mengelola tekanan klub menjadi faktor krusial yang kerap terabaikan.
Kepergian mendadak ini meninggalkan tanda tanya besar di kalangan pendukung Woking. Apakah Defoe akan segera mendapatkan pekerjaan baru? Atau justru mundur dari dunia kepelatihan? Yang jelas, langkah ini menegaskan bahwa dunia manajerial tidak semudah yang dibayangkan, bahkan bagi mantan bintang sekaliber Jermain Defoe.



