BRIN Temukan Spesies Ikan Gobi Baru dari Banyuwangi, Bukti Kekayaan Laut Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Peneliti BRIN mendeskripsikan Tomiyamichthys oriens, spesies ikan gobi baru dari perairan Banyuwangi yang memiliki bercak oranye terang.
- Ikan ini bersimbiosis dengan udang pistol dan secara genetik berbeda 3,1% dari kerabatnya di Jepang, menegaskan keunikan biodiversitas laut Nusantara.
- Temuan ini mengukuhkan Indonesia sebagai pusat keanekaragaman gobi dunia, dengan 12 dari 20 spesies genus Tomiyamichthys ditemukan di dalam negeri.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengumumkan penemuan spesies ikan gobi baru dari tangkapan nelayan di Banyuwangi, Jawa Timur, menegaskan kembali posisi Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati laut dunia.
Ikan kecil seukuran jari tangan dewasa itu diberi nama Tomiyamichthys oriens. Nama oriens—bahasa Latin untuk 'timur' atau 'matahari terbit'—merujuk pada Banyuwangi yang dikenal sebagai 'Sunrise of Java' serta bercak oranye terang di tubuhnya yang menyerupai cahaya fajar. Spesies ini dideskripsikan oleh tim peneliti dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN berdasarkan dua spesimen jantan dan betina yang dikumpulkan dari sebuah perusahaan eksportir ikan hias, yang sebelumnya diterima dari nelayan setempat bernama Darsono.
Peneliti BRIN, Kunto Wibowo, menjelaskan bahwa spesies ini nyaris identik dengan Tomiyamichthys hyacinthinus yang baru dideskripsikan tahun lalu dari Kyushu, Jepang. Namun, analisis morfologi dan genetik—khususnya pada gen COI mitokondria—menunjukkan perbedaan konsisten sebesar 3,1 persen, cukup untuk menetapkannya sebagai spesies baru. “Perbedaan terletak pada pola bercak sirip dorsal dan kecerahan warna tubuh. Ikan gobi Banyuwangi memiliki bercak yang lebih kecil dan warna tubuh lebih terang,” ujar Kunto dalam laporan yang terbit di jurnal ZooKeys edisi 24 Juni 2026.
Tomiyamichthys oriens termasuk kelompok ikan gobi udang (shrimpgoby) yang hidup bersimbiosis mutualisme dengan udang pistol (Alpheus). Udang yang memiliki penglihatan buruk membangun liang di dasar pasir, sementara ikan gobi yang awas bertugas sebagai penjaga. Ikan gobi menggetarkan tubuhnya saat mendeteksi predator, memberi sinyal pada udang untuk berlindung. Hubungan ini membuat ikan gobi memperoleh tempat tinggal dan udang mendapat perlindungan. Di perairan Indonesia, terdapat lebih dari 120 spesies gobi yang berasosiasi dengan udang Alpheid, menjadikan nusantara sebagai pusat simbiosis ini.
Indonesia berada di jantung Segitiga Karang (Coral Triangle), kawasan laut seluas 6,5 juta km² yang menyimpan 75 persen spesies karang dunia dan lebih dari 3.000 spesies ikan. Dari 20 spesies tomiyamichthys yang diakui secara ilmiah, 12 di antaranya ditemukan di Indonesia. Temuan T. oriens tidak hanya menambah daftar biodiversitas, tetapi juga menegaskan potensi riset dan konservasi laut yang belum tergali. Penemuan spesies baru dari tangkapan nelayan lokal menunjukkan pentingnya keterlibatan masyarakat pesisir dalam pengumpulan data ilmiah.
Ukuran tubuh yang kecil—rata-rata sekitar 10 cm—dan warna yang relatif mencolok membuat ikan gobi berpotensi menjadi komoditas ikan hias. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa eksploitasi harus diimbangi dengan upaya konservasi, mengingat sebagian besar spesies gobi memiliki habitat spesifik dan rentan terhadap kerusakan terumbu karang. BRIN berencana melanjutkan survei di pesisir selatan Jawa Timur untuk mengidentifikasi spesies-spesies lain yang mungkin belum terdeskripsi.
Penemuan Tomiyamichthys oriens membuka jendela baru bagi pemahaman tentang keanekaragaman hayati laut Indonesia. Di tengah tekanan perubahan iklim dan degradasi ekosistem pesisir, seberapa banyak lagi spesies yang akan lenyap sebelum sempat dikenali? Pertanyaan ini menjadi pekerjaan rumah bagi para ilmuwan dan pemangku kepentingan.



