Polri Ubah Seleksi Akpol 2026: Wajib Tes Komputer dan Soal Setara Olimpiade
Baca dalam 60 detik
- Kepolisian Republik Indonesia memberlakukan tes komputer dan ujian akademik setara olimpiade dalam rekrutmen taruna Akpol tahun 2026.
- Perubahan ini menandai transformasi rekrutmen Polri yang lebih adaptif terhadap teknologi dan kebutuhan organisasi, menuntut calon anggota melek digital dan berpikir analitis.
- Sebanyak 404 calon taruna dan taruni telah mengikuti tahap akhir seleksi, dengan standar baru yang diharapkan menghasilkan perwira Polri yang lebih kompeten di era modern.

Kepolisian Republik Indonesia secara resmi menerapkan tes komputer dan soal akademik berstandar olimpiade dalam seleksi penerimaan Taruna Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 2026. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi rekrutmen yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi serta menjawab kebutuhan organisasi yang makin kompleks.
Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia, Inspektur Jenderal Anwar, menjelaskan bahwa penguasaan teknologi kini menjadi kompetensi dasar yang harus dimiliki setiap calon anggota Polri, mulai dari tamtama, bintara, hingga perwira. Dalam keterangan di sela-sela tahap akhir seleksi di Semarang, Jumat (24/7), ia menegaskan bahwa generasi Z yang mendominasi calon pendaftar harus mampu mengoperasikan perangkat digital.
"Mereka semua Gen Z, harus mengenal teknologi. Jika tidak paham komputer dan gadget, mereka akan tertinggal," ujar Anwar, menekankan pentingnya tes komputer yang kini diterapkan di semua jenjang.
Selain aspek teknologi, Polri juga meningkatkan kualitas ujian akademik. Materi tes tidak lagi berfokus pada hafalan, melainkan mengukur kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah dengan level setara olimpiade. Tes mencakup bahasa Inggris, pengetahuan umum, matematika, dan mata pelajaran lainnya yang dirancang untuk menyeleksi calon terbaik.
Tahap akhir seleksi dipimpin langsung oleh Wakapolri Komisaris Jenderal Dedi Prasetyo di Gedung Serba Guna Akademi Kepolisian, Semarang. Para peserta menjalani serangkaian pemeriksaan mulai dari administrasi, kesehatan, psikologi, akademik, kesamaptaan jasmani, hingga pemeriksaan penampilan. Pada tahap rikpil tingkat pusat, enam pejabat utama Polri turut menilai penampilan para calon taruna.
Transformasi rekrutmen ini tidak hanya mengubah standar seleksi, tetapi juga menggambarkan arah baru Polri yang ingin lebih relevan dengan tantangan era digital. Ke depan, Polri akan menghadapi berbagai kejahatan siber dan ancaman non-konvensional yang membutuhkan personel dengan kemampuan analitis tinggi serta penguasaan teknologi. Dengan standar baru ini, Polri berharap dapat menjaring kader-kader unggul yang siap menjawab kebutuhan masyarakat.
Namun, perubahan ini juga membawa pertanyaan: apakah calon dari daerah dengan akses teknologi terbatas akan menghadapi kesenjangan? Polri perlu memastikan bahwa transformasi ini tetap inklusif dan memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh putra-putri Indonesia.



