Piala Dunia 2026 di AS: Antara Antusiasme, Tiket Mahal, dan Kontroversi Visa
Baca dalam 60 detik
- Piala Dunia 2026 resmi bergulir di AS, Meksiko, dan Kanada, dengan AS menjadi tuan rumah untuk pertama kalinya sejak 1994.
- Antusiasme publik AS masih rendah—hanya sepertiga warga berniat menonton—sementara masalah visa dan harga tiket membayangi perhelatan.
- Kontroversi diplomatik dan sosial, seperti penolakan Iran terhadap pertandingan bertema Pride, menambah kompleksitas turnamen.
Piala Dunia 2026 akhirnya menyapa Amerika Serikat, Jumat (12/6), dengan upacara pembukaan di Stadion SoFi, Los Angeles, yang dimeriahkan penyanyi Katy Perry. Namun, di balik gemerlap panggung, penyelenggara dihadapkan pada sederet persoalan—mulai dari harga tiket yang melambung, kebijakan visa yang ketat, hingga kontroversi politik—yang menguji daya tarik turnamen sepak bola terbesar di dunia ini.
Antusiasme publik Negeri Paman Sam terhadap sepak bola memang belum setinggi negara lain. Survei menunjukkan hanya sekitar sepertiga warga AS yang berencana mengikuti Piala Dunia, jauh di bawah negara peserta lain. Perhatian olahraga di AS dalam pekan terakhir justru tersedot oleh final NBA yang melibatkan New York Knicks. Di kawasan LA Live, beberapa pengunjung mengaku bukan penggemar sepak bola, melainkan sekadar ingin melihat mantan pemain NFL yang hadir dalam acara bertema Piala Dunia.
Meski demikian, demam sepak bola mulai terasa di kota-kota besar. Di Midtown Manhattan, ribuan suporter Brasil, Meksiko, dan AS berbaur dengan penggemar Knicks, menciptakan pemandangan warna-warni. Wali Kota New York Zohran Mamdani mendorong warganya untuk menghadiri festival penggemar dan pameran sepak bola yang digelar di berbagai sudut kota. "Saat kita merayakan Piala Dunia, kita merayakan olahraga kelas pekerja dan orang-orang yang memainkannya," ujar Mamdani, penggemar setia Arsenal.
Kekhawatiran terbesar datang dari kebijakan imigrasi pemerintahan Donald Trump yang keras. Banyak penggemar asing enggan bepergian ke AS setelah pemberitaan tentang larangan dan pembatasan visa. Seorang wasit asal Somalia bahkan dilarang masuk pekan ini. Timnas Iran, yang negaranya menjadi sasaran serangan AS dan Israel pada Februari lalu, akhirnya berlatih di Meksiko dan menyeberang ke AS hanya untuk pertandingan. Belum lagi polemik pertandingan Iran vs Mesir di Seattle pada 26 Juni yang oleh panitia lokal dicanangkan sebagai laga bertema LGBT Pride—sebuah langkah yang ditentang keras kedua federasi sepak bola negara tersebut.
Cuaca panas musim panas Amerika Utara juga menjadi sorotan. Suhu di New York mencapai 34 derajat Celsius. Penggemar Brasil, David Scarton, optimistis timnya akan beradaptasi, tetapi meragukan kemampuan Norwegia dan Swedia. Di sisi lain, suporter AS berusia 67 tahun, Gabriel Aguilar, tetap antusias. "Saya sudah menunggu hari ini selama 35 tahun. Saya hadir di Piala Dunia 1994 di Texas, dan kegembiraan serta patriotisme saat itu tidak seperti sekarang. Suatu hari kami akan seperti penggemar Meksiko yang benar-benar menghayati atmosfer. Kami belum sampai, tapi semakin dekat," katanya.
Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 menjadi ajang pembuktian apakah sepak bola mampu menembus pasar olahraga AS yang didominasi basket, sepak bola Amerika, dan bisbol. Jika sukses, bukan tidak mungkin Indonesia—dengan basis penggemar sepak bola yang besar—bisa belajar dari strategi promosi dan akomodasi multikultural yang diterapkan AS. Namun, bila kontroversi visa dan harga tiket terus mengemuka, citra Piala Dunia sebagai pesta rakyat bisa tercoreng. Pertanyaannya, mampukah AS mengelola sorotan global ini tanpa kehilangan esensi olahraga yang menyatukan?



