Wyatt-Hodge Cetak Abad, England Hancurkan Sri Lanka di Pembuka Piala Dunia T20
Baca dalam 60 detik
- Danni Wyatt-Hodge mencetak 105* dari 62 bola, membawa England ke skor tertinggi sepanjang sejarah Piala Dunia T20 wanita (219-1).
- Freya Kemp mengambil 4-21, termasuk tiga wicket dalam empat bola, untuk membatasi Sri Lanka hanya 132.
- Kemenangan 87-run ini menjadi modal ideal England untuk memutus puasa gelar di enam turnamen sebelumnya.

Pembukaan Piala Dunia T20 wanita di Edgbaston berubah menjadi panggung tunggal Danni Wyatt-Hodge. Pemain veteran berusia 35 tahun itu mencetak 105 not out dari 62 bola, mengantar England meraih kemenangan telak 87 run atas Sri Lanka, Sabtu (5/10) malam waktu setempat.
Skor 219-1 yang dibukukan England menjadi yang tertinggi dalam sejarah turnamen, melampaui rekor sebelumnya. Wyatt-Hodge, yang baru tiga pekan lalu menjadi ibu setelah pasangannya melahirkan anak pertama, merayakan abadnya dengan gerakan mengayun bat seperti menimang bayi. Ia mendapat dukungan penuh dari Amy Jones (53 dari 38 bola) dan kapten Nat Sciver-Brunt (46* dari 22 bola) yang baru pulih dari cedera betis.
Namun, penampilan Sri Lanka di bawah ekspektasi. Tim asuhan Chamari Athapaththu tampil ceroboh dengan tiga tangkapan yang terlepas dan banyak memberikan wide serta no-ball. Athapaththu sendiri hanya mampu mencetak 4 run sebelum tertangkap oleh Wyatt-Hodge yang berlari mundur dari square leg. Lauren Bell membuka keunggulan dengan menjatuhkan wicket Vishmi Gunaratne pada over ketiga.
Bagi England, kemenangan ini menjadi awal yang sempurna untuk memutus rentetan enam turnamen tanpa gelar di semua format. Pelatih Charlotte Edwards dan Sciver-Brunt tentu puas dengan performa tim, meski lawan dianggap belum sekuat saat mereka mengalahkan England dalam seri T20 tiga tahun lalu. Jones yang naik ke posisi pembuka setelah Sophia Dunkley kehilangan performa, langsung memberikan kontribusi meski dua kali lolos dari tangkapan.
Konteks bagi Indonesia: meski kriket belum sepopuler sepak bola, prestasi Wyatt-Hodge dan kawan-kawan bisa menjadi inspirasi bagi atlet wanita Tanah Air. Momentum seperti ini juga menunjukkan bagaimana olahraga bisa menjadi alat pemberdayaan, terutama bagi ibu yang kembali berkompetisi di level tertinggi.
Ke depan, England akan menghadapi Irlandia di Southampton pada Selasa (8/10). Pertanyaan besarnya: mampukah mereka mempertahankan performa ini hingga akhir turnamen, atau akankah kelemahan lawan yang membuat mereka tampil begitu dominan?



