Stopira: Bek 38 Tahun yang Membawa Mimpi Cabo Verde ke Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Ianique dos Santos Tavares, alias Stopira, menjadi pahlawan kualifikasi Piala Dunia 2026 setelah golnya memastikan tiket debut Cabo Verde.
- Di usia 38 tahun, bek kiri ini masih tampil gemilang, termasuk membawa Torreense juara Taça de Portugal dengan gol penalti dramatis.
- Cabo Verde tergabung di Grup H bersama Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi, namun Stopira optimistis timnya bisa memberi kejutan.
Ianique dos Santos Tavares, yang akrab disapa Stopira, adalah bukti bahwa usia bukan penghalang untuk mengejar mimpi. Di usianya yang ke-38, bek kiri asal Cabo Verde ini baru saja mengukir sejarah: ia menjadi bagian dari tim nasional yang untuk pertama kalinya lolos ke Piala Dunia 2026. Tak hanya itu, sepekan sebelumnya, ia juga menjadi pahlawan bagi klubnya, Torreense, dengan mencetak gol penalti di masa perpanjangan waktu yang mengantarkan mereka menjuarai Taça de Portugal, mengalahkan raksasa Sporting CP.
Perjalanan Stopira menuju panggung terbesar sepak bola dunia tidaklah mudah. Ia memulai karier di Sporting Praia, klub ibu kota Cabo Verde, sebelum merantau ke Portugal, Spanyol, dan Hungaria. Selama 11 tahun membela Fehervar di Hungaria, ia terus berjuang meski sering dianggap underdog. Kini, setelah kembali ke Portugal dan bergabung dengan Torreense pada 2024, ia menuai hasil manis dari kerja kerasnya.
Bagi Cabo Verde, kehadiran di Piala Dunia 2026 adalah sebuah kejutan besar. Negara kepulauan di Afrika Barat ini menjadi salah satu dari empat tim yang akan melakukan debut di turnamen tersebut, bersama Curacao, Uzbekistan, dan Yordania. Di Grup H, mereka harus menghadapi raksasa seperti Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi. Namun, Stopira tidak gentar. “Kami memiliki potensi besar dan kualitas nyata. Kami bisa mendapatkan hasil bagus dan memberi kejutan,” ujarnya kepada FIFA.
Asal-usul nama panggilan Stopira sendiri menarik. Saat kecil, ia sering bermain di jalanan dan menunjukkan kemampuan kaki kirinya yang memukau. Seorang tetangga membandingkannya dengan Yannick Stopyra, penyerang Prancis yang mencapai semifinal Piala Dunia 1986. Nama itu kemudian diadaptasi ke dalam bahasa Cabo Verde menjadi “Stopira”. “Saya kidal, sama seperti dia. Itulah asal-usulnya, dan sekarang nama itu tertera di jersey saya,” kenang Stopira.
Bagi Indonesia, kisah Stopira memberikan pelajaran berharga tentang kegigihan dan kerja keras. Tim nasional Indonesia yang juga bermimpi tampil di Piala Dunia dapat belajar dari perjalanan Cabo Verde, yang meski berstatus underdog, mampu bersaing di level tertinggi. Dengan populasi kecil dan sumber daya terbatas, Cabo Verde membuktikan bahwa mimpi bisa terwujud jika ada tekad yang kuat.
Stopira sendiri tidak menyangka mimpinya menjadi kenyataan begitu cepat. “Saya selalu menonton pertandingan Brasil, Portugal, dan tim Afrika, dan bertanya-tanya apakah Cabo Verde bisa suatu hari nanti. Sekarang kami di sini, siap menikmati momen istimewa ini,” katanya. Dengan semangat pantang menyerah, ia dan rekan-rekannya siap menulis sejarah baru di Piala Dunia 2026.



