San Siro Mulai Diratakan 2031: AC Milan dan Inter Pindah ke Stadion Baru
Baca dalam 60 detik
- AC Milan dan Inter sepakat membangun stadion baru di lahan samping San Siro, dengan konstruksi dimulai 2027 dan rampung pada musim 2030-31.
- Pembongkaran besar-besaran San Siro dijadwalkan pada 2031, menyisakan sebagian fasad ikonik sebagai ruang publik.
- Keputusan ini didorong oleh pertimbangan finansial: renovasi dinilai lebih mahal dan kurang menguntungkan dibanding membangun stadion modern dari nol.

San Siro, stadion legendaris yang menjadi saksi bisu rivalitas AC Milan dan Inter Milan selama hampir satu abad, akan mulai dibongkar pada 2031. Kepastian ini muncul setelah kedua klub memutuskan untuk meninggalkan markas bersama mereka dan pindah ke stadion baru yang lebih modern, yang pembangunannya akan dimulai pada 2027 di lahan yang berdekatan dengan San Siro saat ini.
Rencana pembangunan stadion baru sebenarnya sudah digulirkan sejak 2019, namun sempat terhambat oleh penolakan politik, kekhawatiran akan warisan sejarah, serta perdebatan sengit antara opsi renovasi versus pembangunan baru. Kini, setelah melalui proses negosiasi yang panjang, kedua klub berkomitmen penuh untuk mewujudkan proyek ambisius ini. Stadion baru ditargetkan rampung pada musim 2030-31, dan setelah itu San Siro akan mulai diratakan.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Manajemen AC Milan dan Inter menilai San Siro sudah tidak kompetitif secara finansial jika dibandingkan dengan stadion-stadion modern di Eropa. Biaya renovasi yang membengkak, keterbatasan kapasitas untuk acara non-sepak bola, serta minimnya fasilitas komersial menjadi faktor utama. Dengan stadion baru, kedua klub berharap dapat meningkatkan pendapatan dari tiket, sponsor, dan penyelenggaraan konser atau acara besar lainnya.
Meski sebagian besar interior San Siro akan dibongkar, tidak semua bagian stadion akan hilang. Rencana tata kota yang diajukan mengusulkan agar fasad ikonik San Siro—dengan menara-menara spiralnya yang khas—tetap dipertahankan dan diintegrasikan ke dalam ruang publik di sekitar stadion baru. Langkah ini diambil untuk menjaga identitas sejarah kawasan tersebut, sekaligus memberikan penghormatan kepada salah satu stadion paling bersejarah di dunia.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kabar ini mungkin terasa pahit. San Siro bukan sekadar stadion; ia adalah simbol dari kejayaan sepak bola Italia yang pernah menghiasi layar kaca Tanah Air pada era 1990-an hingga awal 2000-an. Momen-momen epik seperti final Piala Dunia 1990, duel sengit derby della Madonnina, serta konser-konser legendaris menjadi kenangan yang melekat. Namun, transformasi ini juga bisa menjadi pelajaran bagi pengelola stadion di Indonesia, seperti Gelora Bung Karno atau Stadion Utama Riau, bahwa modernisasi fasilitas adalah keniscayaan demi daya saing ekonomi olahraga.
Menurut analis sepak bola Italia, keputusan ini merupakan langkah strategis jangka panjang. "Renovasi San Siro akan memakan biaya lebih besar dan hasilnya tidak akan seoptimal membangun stadion baru yang dirancang sesuai kebutuhan abad ke-21," ujar seorang pengamat yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan bahwa stadion baru akan memiliki kapasitas sekitar 65.000 kursi, lebih kecil dari San Siro yang berkapasitas 75.000, namun dengan fasilitas yang jauh lebih modern dan ramah pengunjung.
Sementara itu, para penggemar masih memiliki beberapa musim lagi untuk menyaksikan pertandingan di San Siro sebelum akhirnya beralih ke stadion baru. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: akankah atmosfer magis San Siro dapat direplikasi di stadion anyar nanti? Atau justru akan lahir identitas baru yang lebih segar bagi kedua klub? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: langit Milan akan segera berubah.



