Panggung Besar di Kandang: Inggris dan Krusialnya Piala Dunia T20 Wanita
Baca dalam 60 detik
- Timnas kriket putri Inggris memulai perjuangan Piala Dunia T20 di kandang sendiri, membawa beban sejarah sebagai tuan rumah yang belum pernah kalah namun juga rentetan kegagalan di turnamen global.
- Di bawah asuhan Charlotte Edwards dan kapten Nat Sciver-Brunt, Inggris menunjukkan momentum positif setelah mengalahkan Selandia Baru dan India, meski harus menghadapi raksasa seperti Australia, India, dan Afrika Selatan.
- Turnamen ini menjadi ujian krusial bagi perkembangan kriket wanita Inggris, dengan harapan dapat meniru kesuksesan sepak bola dan rugbi putri yang sebelumnya berhasil merebut hati publik.

Nat Sciver-Brunt dan skuad Inggris memulai petualangan mereka di Piala Dunia T20 Wanita pada Jumat (30/5) melawan Sri Lanka di Edgbaston, Birmingham, dalam ajang yang tidak hanya menentukan nasib tim tuan rumah, tetapi juga menjadi barometer pertumbuhan kriket wanita di Inggris.
Turnamen edisi kedelapan ini hadir di tengah persaingan ketat perhatian publik, yang sedang terfokus pada gelaran sepak bola di Amerika Utara serta masa depan kapten tim kriket pria, Ben Stokes. Namun, bagi Sciver-Brunt dan pelatih Charlotte Edwards, tekanan justru menjadi pendorong. “Kami berada di titik di mana kriket wanita siap untuk meledak dan berkembang,” ujar Sciver-Brunt menjelang laga pembuka.
Inggris memiliki rekor sempurna saat menjadi tuan rumah Piala Dunia Wanita—empat edisi sebelumnya selalu berakhir dengan trofi, sejak 1973. Namun, dalam enam turnamen terakhir (T20 dan 50-over), mereka gagal meraih gelar. Kegagalan di Commonwealth Games 2022 dan lima kali kalah di The Ashes menambah daftar kekecewaan. Kini, harapan besar disematkan pada skuad yang dilatih Edwards, yang dipanggil kembali setelah kekalahan telak dari Australia di Ashes 2024-25.
Momentum positif mulai terlihat. Dalam enam pertandingan terakhir, Alice Capsey berevolusi dari pemain cadangan menjadi tulang punggung di urutan tengah, sementara kembalinya Sciver-Brunt dari cedera betis dengan skor 50-an menjadi suntikan kepercayaan. Kontribusi Freya Kemp—39 not out dari 13 bola melawan India—menjadi titik balik yang membalikkan seri menjadi kemenangan 2-1. “Pertanyaan besarnya adalah apakah ini hanya kilas balik semu atau awal dari sesuatu yang permanen,” tulis analis BBC Sport.
Turnamen ini juga menjadi saksi peralihan generasi. Legenda Selandia Baru, Suzie Bates, telah mengumumkan pensiun setelah turnamen ini, menyusul Alyssa Healy dari Australia yang pensiun tahun ini. Mantan kapten Inggris Heather Knight, yang kini menjabat peran manajerial di The Hundred, juga dikabarkan akan mengikuti jejak mereka. Kesuksesan di kandang sendiri bisa menjadi akhir yang sempurna bagi karier gemilang Knight, yang memimpin Inggris meraih gelar 2017 di Lord's.
Dari sisi penyelenggaraan, Piala Dunia kali ini menggunakan tujuh venue ikonik—Lord's, The Oval, Old Trafford, Headingley, Southampton, Edgbaston, dan Bristol—mencerminkan pertumbuhan pesat kriket wanita. Namun, kekhawatiran akan kursi kosong masih membayangi, meski penjualan tiket telah memecahkan rekor. Bagi Indonesia, ajang ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana sebuah turnamen besar dapat mendorong investasi dan popularitas olahraga, terutama dalam mengembangkan ekosistem kriket wanita yang masih tertinggal di Asia Tenggara.
Sciver-Brunt menegaskan bahwa tekanan adalah keistimewaan. “Kami berada di masa di mana kriket wanita menunggu platform untuk meledak.” Inggris gagal memanfaatkan momentum kemenangan 2017—kontrak domestik penuh waktu baru hadir tiga tahun kemudian, dan The Hundred baru dimulai pada 2021. Kini, peluang itu kembali terbuka. Pertanyaannya, mampukah Inggris merebut gelar dan mengubah wajah kriket wanita untuk selamanya?
