Sophie Turner Buka Suara soal 'Mini Breakdown' di Usia 20-an: Kini Siap Sambut Dekade Baru
Baca dalam 60 detik
- Sophie Turner mengaku mengalami krisis identitas dan tekanan mental setelah Game of Thrones berakhir, yang memicu 'mini breakdown' di usia 20-an.
- Aktris 30 tahun itu kini merasa lebih positif memasuki usia 30-an, ditemani sahabat masa kecil yang juga melewati masa sulit serupa.
- Perannya sebagai Lara Croft di serial Tomb Raider disebut sangat berbeda dengan kepribadiannya, termasuk tantangan mengelola ADHD.

Sophie Turner, aktris yang dikenal luas lewat perannya sebagai Sansa Stark di Game of Thrones, mengaku mengalami apa yang ia sebut sebagai 'mini breakdown' selama dekade usia 20-an. Kini, di ambang usia 30 tahun, ia merasa lega bisa meninggalkan masa-masa penuh gejolak tersebut dan menyambut babak baru kehidupan dengan optimisme.
Dalam wawancara dengan The Daily Telegraph, Turner mengungkapkan bahwa dirinya dan lingkaran sahabat karibnya—yang sudah bersahabat sejak sekolah—sama-sama merayakan tahun-tahun penuh perubahan ini. "Kami semua sangat senang bisa keluar dari kekacauan usia 20-an. Masing-masing dari kami pernah mengalami 'mini breakdown', tapi sekarang kami merasa sangat positif," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ia sudah sangat siap meninggalkan dekade tersebut.
Ketenaran yang diraih Turner sejak usia 13 tahun saat memerankan Sansa Stark ternyata membawa beban tersendiri. Ketika serial Game of Thrones berakhir pada Mei 2019 setelah delapan musim, ia mengalami krisis identitas yang mendalam. "Saya tidak tahu mana Sansa dan mana Sophie. Saya terlalu muda untuk membaca buku-bukunya, jadi saya mengembangkan karakternya seiring waktu. Ketika harus melepaskannya, saya benar-benar tidak tahu siapa diri saya atau apa yang saya lakukan. Itu adalah masa yang aneh dan sulit," kenangnya.
Saat ini, Turner tengah sibuk dengan proyek terbarunya, serial Tomb Raider yang diadaptasi dari gim video populer. Ia mengakui bahwa karakter Lara Croft sangat berbeda dengan kepribadian aslinya. "Lara sangat berbeda dari saya dan kepribadian saya. Tanpa memberi bocoran terlalu banyak, ada sisi dirinya yang cukup toksik, tapi juga ada sisi yang sangat fokus dan gigih. Sementara saya punya ADHD dan tidak bisa menyelesaikan satu tugas tanpa lupa dan beralih ke hal lain," jelasnya. Meski begitu, ia menemukan kesamaan: kecintaan pada sejarah.
Menariknya, Turner menolak pendekatan method acting yang kerap dilakukan aktor pria. Ia mengutip pernyataan Kristen Stewart bahwa hanya aktor pria yang bisa menjadi method actor karena perempuan harus pulang dan memasak makan malam untuk anak-anak mereka. "Saya tidak bisa menjadi psikopat pembunuh sambil membuat spageti, kan?" sindirnya, menekankan realitas sebagai ibu dari dua anak.
Kisah Turner menjadi pengingat bahwa tekanan mental dan krisis identitas bisa dialami siapa saja, termasuk selebritas yang tampak sukses. Di Indonesia, isu kesehatan mental di kalangan anak muda juga semakin mendapat perhatian, terutama bagi mereka yang menghadapi tekanan karier atau transisi hidup. Pengalaman Turner menunjukkan pentingnya dukungan sosial dan penerimaan diri dalam menghadapi masa-masa sulit.
Ke depan, Turner tampak optimis menjalani usia 30-an. Dengan proyek ambisius seperti Tomb Raider dan kesadaran akan batasan dirinya, ia siap menulis ulang narasi hidupnya. Pertanyaannya, akankah lebih banyak figur publik berani terbuka tentang perjuangan mental mereka seperti yang dilakukan Turner? Jika ya, mungkin stigma seputar kesehatan mental perlahan akan luntur.



