Perpustakaan Universitas di Jepang Luncurkan 'Rak Apel' untuk Kaum Rentan
Baca dalam 60 detik
- Shikoku Gakuin University menjadi perpustakaan universitas pertama di Prefektur Kagawa yang menghadirkan 'Apple Shelf', sebuah rak khusus berisi buku dan alat bantu baca bagi penyandang disabilitas dan mereka yang menghadapi kesulitan hidup.
- Konsep yang berasal dari Swedia pada 1993 ini menyediakan buku braille, buku digital bersuara, buku cetak besar, serta buku kain untuk tunanetra dan tunadaksa, lengkap dengan kaca pembesar.
- Rak ini juga memuat pamflet kelompok dukungan untuk isu-isu seperti depresi, gangguan perkembangan, minoritas seksual, dan pengasuhan anak, menjadikannya pusat informasi dan interaksi sosial.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan inklusivitas, sebuah universitas di Jepang barat mengambil langkah konkret dengan meresmikan 'Apple Shelf'—rak buku permanen yang dirancang khusus untuk membantu individu yang menghadapi berbagai kesulitan hidup. Shikoku Gakuin University di Zentsuji, Prefektur Kagawa, menjadi pelopor di wilayahnya dengan menghadirkan inisiatif yang awalnya lahir di Swedia pada 1993 ini.
Konsep Apple Shelf pertama kali diperkenalkan di perpustakaan Swedia untuk anak-anak yang kesulitan membaca karena disabilitas. Namanya diambil dari mainan berbentuk apel yang digunakan di perpustakaan London untuk menghibur anak-anak berkebutuhan khusus. Di Jepang, ide ini mulai menyebar setelah sebuah perpustakaan umum di Prefektur Saitama mengadopsinya pada 2013, dan semakin meluas pasca pengesahan undang-undang aksesibilitas membaca pada 2019. Namun, hingga kini masih sedikit perpustakaan umum di Kagawa yang memiliki fasilitas serupa.
Peresmian Apple Shelf di Shikoku Gakuin University bertepatan dengan perayaan 20 tahun berdirinya perpustakaan Echthes dan 60 tahun Departemen Kesejahteraan Sosial universitas tersebut. Dalam seremoni pada 20 Mei lalu, sebanyak 230 item dipajang di rak tersebut, mencakup buku tentang penolakan sekolah, depresi, gangguan perkembangan, minoritas seksual, serta buku braille, buku digital dengan suara, dan buku cetak besar. Tersedia pula kaca pembesar untuk memudahkan membaca.
Yang menarik, rak ini juga dilengkapi sekitar 30 buku kain yang dibuat secara manual oleh kelompok sukarelawan 'Marugame Himawari Bunko'. Kiyomi Nakatsuka, kepala kelompok tersebut, menekankan pentingnya buku yang bisa dinikmati melalui sentuhan. "Saya ingin orang tahu bahwa ada buku yang bisa dinikmati dengan meraba," ujarnya. Selain itu, tersedia pula pamflet dari kelompok swadaya dan dukungan untuk topik-topik seperti pengasuhan anak, minoritas seksual, gangguan perkembangan, dan gagap.
Akihiro Nozaki, profesor di Fakultas Kesejahteraan Sosial universitas, menjelaskan bahwa pihaknya memikirkan bagaimana perpustakaan universitas dapat berkontribusi pada komunitas. "Saya ingin menjadikannya perpustakaan di mana orang yang merasa hidup sulit dapat datang dengan santai dan belajar sesuatu. Saya juga ingin merencanakan acara bekerja sama dengan warga setempat," katanya. Seorang mahasiswa sosial, Keisuke Meguro, berharap inisiatif ini menjadi tempat berkumpul dan berinteraksi bagi mahasiswa dan masyarakat umum seputar tema disabilitas dan kesejahteraan.
Bagi Indonesia, konsep Apple Shelf menawarkan inspirasi bagi perpustakaan universitas dan umum untuk lebih inklusif. Dengan jumlah penyandang disabilitas yang signifikan—sekitar 22,97 juta jiwa menurut data Kementerian Sosial—keberadaan fasilitas serupa di Tanah Air dapat membantu mengatasi hambatan akses informasi dan literasi. Beberapa perpustakaan di Indonesia, seperti Perpustakaan Nasional, telah menyediakan layanan braille dan buku audio, namun integrasi dengan dukungan psikososial dan komunitas masih terbatas.
Misako Tada, pustakawan Echthes, menyebut peresmian ini baru awal. "Hari ini kami baru menanam bibit apel. Saya berharap kami bisa menumbuhkannya bersama menjadi pohon besar," katanya. Pertanyaannya, akankah model ini diadopsi lebih luas di Jepang dan negara lain, termasuk Indonesia, untuk menciptakan ruang perpustakaan yang benar-benar ramah bagi semua?



