Di Balik Senyum Perempuan Bajo: Ketika Laut Tak Lagi Ramah dan Kecemasan Mengintai
Baca dalam 60 detik
- Perubahan iklim dan kerusakan ekosistem pesisir memaksa perempuan Suku Bajo di Soropia, Sulawesi Tenggara, menanggung beban ekonomi dan psikologis ganda.
- Ratusan kecelakaan laut dan penurunan drastis hasil tangkapan mendorong nelayan beralih ke metode berbahaya seperti menyelam kompresor, yang memicu risiko dekompresi akut.
- Peneliti menemukan gejala eco-anxiety pada perempuan pesisir yang kian lazim, namun kebijakan perlindungan sosial dan kesehatan mental masih mengabaikan mereka.

Laut yang dulu menjadi sumber kehidupan kini berubah menjadi ancaman bagi perempuan Suku Bajo di pesisir Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Di balik aktivitas meti-meti—mencari teripang dan kerang saat air surut—tersimpan kecemasan ekologis yang menggerogoti ketahanan mental mereka, sementara kebijakan perlindungan sosial masih jauh dari jangkauan.
Hartati, ibu empat anak di Desa Bajo Indah, masih trauma dengan angin kencang yang melanda pada Januari lalu. Suaminya, Mardin, nyaris tewas saat gelombang tinggi menghantam perahunya. Insiden itu menghancurkan 32 rumah dan merusak puluhan perahu di Soropia. Data BMKG mencatat, frekuensi gelombang di atas 1,25 meter di perairan Teluk Kendari–Moramo terjadi hampir setiap hari pada bulan-bulan tertentu sepanjang 2021–2024. Kantor Pencarian dan Pertolongan Kendari mencatat 203 kecelakaan kapal di Sulawesi Tenggara sejak 2021 hingga Maret 2026, dengan cuaca buruk sebagai penyebab utama.
Penurunan hasil tangkapan memaksa banyak nelayan mengambil risiko lebih besar. Herlina, nelayan perempuan di Desa Mekar, menceritakan adiknya, Husnul, yang pernah mengalami kelumpuhan sementara setelah menyelam menggunakan kompresor. Alat tanpa filter udara itu kerap menyebabkan dekompresi akut. Kerabatnya, Sono, bahkan lumpuh permanen sejak tujuh tahun lalu. “Biar sedikit kita dapat ikan, asal jangan terlalu dalam,” kata Herlina, menggambarkan dilema antara memenuhi kebutuhan dan menjaga keselamatan.
Yudha R. Bahari, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Konawe, mengakui bahwa aktivitas pelayaran telah merusak terumbu karang di pesisir Soropia, memaksa nelayan melaut lebih jauh. Penelitian Amar Maruf dari Universitas Halu Oleo (2019) menunjukkan perubahan iklim memperparah penurunan tangkapan, meningkatkan biaya operasional, dan mempersingkat waktu melaut. Akibatnya, pendapatan nelayan menyusut drastis—Tamrin, suami Herlina, yang dulu bisa membawa 10–20 kg ikan, kini kesulitan mendapat 5 kg.
Perempuan Bajo memikul peran berlapis: mengatur keuangan keluarga, memutuskan alokasi tangkapan untuk dijual atau dikonsumsi, bahkan ikut melaut saat ekonomi tersendat. Herlina setiap malam mencari teripang dan kerang, menjualnya dengan harga Rp75.000 per malam. Rida, nelayan di Desa Leppe, menjadi tulang punggung keluarga sejak bercerai 16 tahun lalu. Ia menjual teripang kering hingga Rp400.000 per kg, namun kerap terpaksa menjual teripang basah hanya Rp10.000 per kg saat kebutuhan mendesak. Ironisnya, sebagai kepala keluarga, Rida tidak memiliki kartu nelayan yang seharusnya memudahkan akses bantuan, subsidi, atau asuransi.
Kondisi ini memicu kecemasan ekologis atau eco-anxiety, sebagaimana diungkapkan Uswatun Hasanah, dosen psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Dalam penelitiannya terhadap perempuan Bajo di Kendari, ia menemukan bahwa kecemasan mereka lahir dari pengalaman tubuh langsung—bukan sekadar informasi—karena setiap hari berhadapan dengan laut yang tak lagi bisa diandalkan. Peran perempuan sebagai penyangga emosi keluarga, yang disebut emotional burden sharing, dalam jangka panjang berpotensi menjadi kelelahan emosional kolektif. “Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi kesehatan mental berbasis budaya dan dukungan komunitas,” tulis Uswatun dalam penelitiannya.
Namun, di tengah tekanan, masyarakat Bajo memiliki mekanisme bertahan: sitabangan, tradisi gotong royong dan berbagi cerita. Uswatun menilai sitabangan bukan sekadar romantisme, melainkan respons terhadap pupusnya harapan. “Tertawa itu juga bagian dari respons ketidakberdayaan,” katanya.
Pertanyaan yang masih menggantung: akankah pemerintah daerah dan pusat merumuskan kebijakan yang tidak hanya mengakomodasi kebutuhan ekonomi perempuan pesisir, tetapi juga kesehatan mental mereka? Ataukah sitabangan akan terus menjadi satu-satunya perisai di tengah laut yang kian murka?



