Mandy Teefey, Ibu Selena Gomez, Melawan Hater: 'Saya Berkorban demi Kesehatan Mental'
Baca dalam 60 detik
- Mandy Teefey membalas komentar pedas netizen yang menuduhnya mengabaikan kesehatan mental anak-anaknya, dengan menegaskan pengalaman pribadinya sebagai pejuang kesehatan mental.
- Ia mengungkapkan bahwa perjuangan melawan depresi sudah dimulainya sejak usia 14 tahun, dan kini ia mendedikasikan hidupnya melalui platform Wondermind yang didirikan bersama Selena Gomez.
- Kasus ini menyoroti maraknya ujaran kebencian di media sosial dan pentingnya dukungan keluarga dalam menghadapi stigma kesehatan mental, fenomena yang juga relevan di Indonesia.

Mandy Teefey, ibu dari penyanyi dan aktris Selena Gomez, melontarkan respons keras terhadap seorang pengguna media sosial yang menuduhnya merusak hubungan dengan anak-anaknya dan mengabaikan kesehatan mental mereka. Dalam unggahan yang dihapus beberapa saat setelah diunggah, Teefey menuliskan pembelaan panjang yang menekankan dedikasinya pada advokasi kesehatan mental, seraya mengkritik kebiasaan menghakimi orang lain tanpa mengetahui perjuangan pribadi mereka.
Wanita berusia 50 tahun itu, yang memiliki dua putri—Selena (34) dari pernikahan pertama dengan Ricardo Joel Gomez dan Gracie (13) dari pernikahan dengan Brian Teefey—merasa perlu menanggapi tuduhan bahwa ia “menghancurkan” anak-anaknya. Dalam tanggapannya, Teefey mengingatkan bahwa tidak ada orang tua yang sempurna, dan setiap orang berhak membuat pilihan tanpa dihakimi secara sepihak. “Anda tidak berhak memberi tahu saya bagaimana menjalani hidup atau menghadapi perang saya,” tulisnya, seperti dikutip oleh Us Weekly.
Teefey juga menyoroti rekam jejaknya di bidang kesehatan mental. Ia bersama Selena mendirikan Wondermind pada 2021, sebuah perusahaan yang berfokus pada dukungan kesehatan mental. “Saya menghabiskan seluruh hidup dan setiap sen yang saya miliki untuk membantu perubahan bagi orang dengan gangguan mental,” katanya. Ia pun menant balik sang hater dengan pertanyaan retoris: “Apa yang sudah Anda lakukan hari ini untuk membuat hari seseorang lebih baik?”
Dalam pernyataannya, Teefey menekankan bahwa kebencian adalah akar masalah, bukan dirinya. Ia mengaku telah membangun dinding untuk melindungi diri, namun tetap terbuka terhadap kritik yang membangun. “Jika Anda melakukannya kepada saya, Anda melakukannya kepada orang-orang yang saya perjuangkan, dan itu tidak boleh,” tegasnya. Ia juga mengajak pengguna media sosial untuk mengalihkan energi negatif menjadi tindakan positif, seperti menyebarkan dukungan.
“Tidak ada orang tua yang sempurna, dan orang-orang menghakimi sepanjang hari berdasarkan pilihan mereka, jadi Anda boleh menganggap saya ibu yang buruk. Anda tidak ada di sini, Anda tidak dibesarkan oleh saya.” — Mandy Teefey
Konteks Indonesia
Fenomena perundungan online dan stigma kesehatan mental juga menjadi isu hangat di Indonesia. Banyak figur publik yang kerap menjadi sasaran hujatan di media sosial, sementara upaya edukasi tentang kesehatan mental terus digalakkan. Kasus Teefey mengingatkan bahwa di balik layar, setiap orang memiliki perjuangan masing-masing, dan dukungan keluarga serta lingkungan sangat penting. Di Indonesia, kampanye anti-perundungan dan literasi kesehatan mental mulai mendapat perhatian, meski masih perlu diperkuat.
Teefey sebelumnya juga menghadapi kritik dari mantan karyawan Wondermind yang meragukan kemampuannya memimpin perusahaan. Menanggapi hal itu, ia menyebut tuduhan tersebut sebagai kebohongan yang disebarkan oleh oknum yang tidak puas. “Saya memulai Wondermind karena ingin membantu orang dengan penyakit mental. Sangat disayangkan beberapa mantan karyawan yang memiliki dendam dapat menyebarkan kebohongan tentang saya,” ujarnya kepada The Cut.
Respons Teefey menunjukkan bahwa perjuangan melawan stigma dan kebencian di dunia maya membutuhkan ketahanan mental yang kuat. Publik pun bertanya-tanya: akankah kasus ini mendorong diskusi lebih dalam tentang batasan kritik dan empati di media sosial, khususnya ketika menyangkut kehidupan pribadi selebritas dan keluarga mereka?



