Bukan Sekadar Naksir: Limerence, Obsesi Cinta yang Berbahaya dan Bertahun-tahun
Baca dalam 60 detik
- Limerence adalah kondisi psikologis berupa obsesi romantis intens yang bisa berlangsung berbulan hingga puluhan tahun, berbeda dari cinta atau sekadar naksir.
- Kondisi ini dipicu oleh ketidakpastian dan mirip kecanduan, dengan gejala kompulsif yang mengganggu fungsi sehari-hari seperti tidur dan makan.
- Penanganan utama mencakup terapi kognitif dan pemutusan kontak total, namun kesadaran akan limerence di Indonesia masih rendah.

Seorang perempuan di Australia menghabiskan delapan tahun hidupnya terbelenggu oleh pikiran obsesif terhadap rekan kerja yang hampir tidak ia kenal—sebuah pengalaman yang oleh para psikolog disebut limerence, bukan sekadar jatuh cinta atau naksir biasa.
Limerence, istilah yang pertama kali diperkenalkan psikolog Dorothy Tennov pada 1970-an, adalah kondisi kejiwaan yang ditandai oleh kerinduan mendalam pada seseorang, pikiran intrusif yang terus menerus, serta perilaku kompulsif demi mendapatkan balasan emosional. Tom Bellamy, ahli saraf dari Universitas Nottingham, Inggris, memperkirakan hingga 50 persen populasi pernah mengalaminya setidaknya sekali seumur hidup.
Berbeda dengan naksir yang biasanya singkat, limerence dapat bertahan berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun. Menurut Orly Miller, psikolog terdaftar di New South Wales, Australia, kondisi ini baru terdiagnosis ketika mulai mengganggu kemampuan seseorang untuk berfungsi—seperti sulit tidur, makan, atau bekerja. Yang membedakannya dari cinta, lanjut Miller, adalah bahwa limerence berpusat pada fantasi dan ambiguitas, bukan pada hubungan yang timbal balik dan realistis.
Dalam konteks Indonesia, fenomena ini kerap disalahartikan sebagai tanda cinta sejati atau kesetiaan. Budaya romantisme yang tinggi, ditambah paparan media sosial yang intens, menciptakan lahan subur bagi limerence. Banyak orang mungkin tidak sadar bahwa obsesi terhadap seseorang—menguntit akun media sosial, membaca ulang pesan, atau menghayalkan skenario bersama—bukanlah cinta, melainkan pola pikir adiktif yang merugikan kesehatan mental.
Psikolog Abby Medcalf dari California menjelaskan bahwa ketidakpastian adalah bahan bakar utama limerence. “Saat Anda tidak yakin apakah perasaan Anda dibalas, otak justru semakin terpacu untuk mencari kepastian,” ujarnya. Hal ini mirip dengan mekanisme kecanduan: ketika ada sedikit isyarat balasan, otak melepaskan dopamin sebagai hadiah. Jika hadiah datang secara tidak menentu, dorongan untuk terus mencarinya semakin kuat.
Riset Lynn Marshall dari Universitas Chichester, Inggris, menunjukkan bahwa orang dengan gaya kelekatan cemas—sering berasal dari pengasuh yang tidak konsisten di masa kecil—lebih rentan mengalami limerence. Mereka juga cenderung memiliki kecemasan dan perilaku obsesif-kompulsif, meski tidak selalu memenuhi kriteria gangguan kecemasan umum atau OCD.
Meskipun menyiksa, limerence tidak bisa dihilangkan begitu saja. Bellamy menyarankan langkah awal: sadari dan beri label pada dorongan kompulsif. “Saya ingin mengirim pesan padanya—itu adalah dorongan limerent,” katanya. Fokus pada kekurangan orang tersebut atau bayangkan jika orang lain tahu tentang obsesi ini juga membantu. Namun, cara paling efektif tetaplah memutus kontak total agar hadiah intermiten berhenti.
Jordan, yang akhirnya diputus kontak oleh rekan kerjanya, mengaku sangat terguncang hingga tidak bisa tidur dan makan. Ia kemudian menjalani terapi kognitif untuk memahami akar perasaannya. Miller menambahkan bahwa limerence sering muncul pada mereka yang memiliki kualitas yang dirindukan atau hilang dalam diri sendiri. Dalam terapi, seseorang bisa belajar mengenali dan memenuhi kebutuhan itu, mengubah limerence menjadi alat transformasi diri.
Ke depan, pertanyaan yang perlu dijawab adalah bagaimana masyarakat, khususnya di Indonesia, bisa membedakan antara cinta sehat dan obsesi patologis. Dengan meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, semoga stigma terhadap kondisi seperti limerence perlahan luntur, dan lebih banyak orang berani mencari bantuan profesional sebelum obsesi menghancurkan hidup mereka.



