Josh Hutcherson Akui Sempat Benci Popularitas Usai The Hunger Games
Baca dalam 60 detik
- Aktor Josh Hutcherson mengaku sempat membenci sorotan publik setelah membintangi The Hunger Games, meski kini mensyukuri pengalaman itu.
- Ia menyebut tekanan ketenaran di usia muda membuatnya marah dan kesal, namun seiring waktu ia belajar menghargai perjalanan kariernya.
- Hutcherson membandingkan masa syuting trilogi itu dengan masa kuliah yang tidak pernah ia jalani, dan mengaku masih kerap dilanda kecemasan akan ketidakpastian pekerjaan.

Josh Hutcherson, aktor yang memerankan Peeta Mellark dalam trilogi The Hunger Games, mengaku sempat membenci popularitas yang ia dapatkan usai film itu meledak di pasaran. Dalam wawancara dengan Elizabeth Banks untuk seri Actors on Actors milik Variety, ia mengungkapkan bahwa sorotan publik yang tiba-tiba terasa sangat berat dan membuatnya kesal selama bertahun-tahun.
Hutcherson, yang kini berusia 33 tahun, menjadi terkenal pada 2012 saat film pertama The Hunger Games dirilis. Ia tumbuh di kota kecil di Kentucky dan mulai berakting sejak kecil karena menyukai proses pembuatan film, bukan karena ingin terkenal. “Ketenaran tidak pernah ada dalam radar saya — lalu saya dilempar ke dunia itu dengan cara yang begitu besar,” ujarnya. Ia merasa beruntung memiliki rekan main seperti Jennifer Lawrence dan Liam Hemsworth yang saling mendukung, namun tetap saja tekanan itu terasa mengintimidasi.
“Untuk waktu yang lama, saya merasa dendam terhadapnya, karena saya tidak menginginkan perhatian semacam itu,” kata Hutcherson. “Saya marah dengan sikap chip-on-my-shoulder. Namun setelah bertahun-tahun, saya mulai sangat menghargainya.” Ia membandingkan masa syuting trilogi itu dengan masa kuliah yang tidak pernah ia jalani. “Saya berusia 19 tahun. Saya tidak kuliah, jadi kuliah bagi saya adalah syuting film-film itu dan tumbuh bersama mereka,” tambahnya.
Meski sudah berkarier sejak kecil, Hutcherson mengaku tidak pernah menganggap enteng kesempatan kerja. Ia menggambarkan industri film sebagai dunia yang penuh naik turun, dengan rasa ketidakpastian yang kadang terasa tak berujung. “Saya selalu berpikir, ‘Yah, ini perjalanan yang bagus. Saya sudah melakukannya selama 24 tahun dan saya rasa itu sudah selesai.’ Saya tidak punya pekerjaan yang menunggu; saya tidak tahu apa yang akan terjadi,” ungkapnya. Namun, begitu kembali ke lokasi syuting, ia merasa seperti pulang.
Pengalaman Hutcherson mencerminkan sisi gelap ketenaran yang jarang terlihat di permukaan. Di Indonesia, fenomena serupa kerap dialami oleh artis muda yang meroket lewat sinetron atau film laris. Tekanan untuk terus tampil sempurna di depan publik seringkali memicu stres dan kecemasan, bahkan membuat sebagian dari mereka memilih mundur dari industri hiburan. Kisah Hutcherson bisa menjadi pengingat bahwa popularitas bukanlah segalanya, dan bahwa kesehatan mental tetap harus diutamakan.
Ke depan, Hutcherson berharap bisa terus berkarya tanpa terbebani ekspektasi. “Begitu Anda kembali ke set, Anda merasa seperti di rumah,” katanya. Pertanyaannya, mampukah industri hiburan memberikan ruang yang lebih sehat bagi para bintang mudanya untuk tumbuh tanpa tekanan berlebih?



