Gempa 7,8 Guncang Filipina Selatan: 35 Tewas, Tsunami Landa Pesisir
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 7,8 SR di lepas pantai Mindanao menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya, dengan gelombang tsunami setinggi satu meter menerjang pesisir selatan Filipina.
- Ratusan bangunan runtuh di General Santos, sementara longsor di Sarangani menewaskan 13 warga; pemerintah setempat mengerahkan tim penyelamat untuk mencari korban hilang.
- Gempa ini menjadi yang terkuat di Filipina tahun ini dan memicu gelombang kecil hingga ke Indonesia, Palau, dan Jepang, mengingatkan kembali pada kerentanan kawasan Ring of Fire.

Gempa bumi bawah laut berkekuatan 7,8 skala Richter yang mengguncang kawasan selatan Filipina pada Senin pagi menewaskan sedikitnya 35 orang dan melukai lebih dari 200 lainnya, sementara gelombang tsunami setinggi satu meter menerjang pesisir. Pusat gempa berada di laut lepas Mindanao, pulau terpadat kedua di Filipina, dengan kedalaman 33 kilometer.
Kota General Santos, pusat industri tuna dengan populasi lebih dari 700.000 jiwa, menjadi wilayah paling terdampak. Sejumlah bangunan bertingkat rendah rubuh atau rusak parah. Bandara internasional setempat ditutup sementara dan 17 penerbangan domestik dibatalkan. Tim penyelamat masih mencari empat orang yang dilaporkan hilang, diduga tertimbun di supermarket, gudang, dan sekolah dasar yang ambruk.
Di Glan, Provinsi Sarangani, longsor yang dipicu gempa menewaskan 13 warga. Empat korban jiwa lainnya dilaporkan di Sarangani akibat reruntuhan bangunan. Secara keseluruhan, sebagian besar kematian disebabkan oleh bangunan roboh dan puing berjatuhan, termasuk di sebuah masjid yang rusak di Provinsi South Cotabato dan Davao Occidental, serta di Pulau Balut.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. memerintahkan penghentian kegiatan belajar-mengajar dan mengerahkan badan penanggulangan bencana ke provinsi terdampak. “Pemerintah pusat bergerak dan kami tidak akan meninggalkan Mindanao,” ujarnya. Amerika Serikat, Perancis, Jepang, dan Selandia Baru menyatakan siap membantu upaya pemulihan.
Gelombang tsunami setinggi satu meter terpantau di Provinsi Sultan Kudarat dan Sarangani, sementara di Kiamba tercatat gelombang setinggi 1,4 meter. Pusat Peringatan Tsunami Pasifik menyatakan ancaman tsunami telah berlalu sekitar lima jam setelah gempa, dan peringatan resmi dicabut pada sore hari. Di Indonesia, tsunami setinggi 83 sentimeter terukur di lepas pantai Sulawesi, sementara gelombang 30 sentimeter dilaporkan di Palau. Jepang juga mencatat gelombang hingga 20 sentimeter di Pulau Chichijima dan Kushimoto.
Bagi Indonesia, gempa ini menjadi pengingat akan posisi geografis yang sama-sama berada di Cincin Api Pasifik. Wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi dan Maluku, kerap mengalami guncangan serupa. Tsunami kecil yang mencapai perairan Sulawesi menunjukkan bahwa jarak geografis tidak menjamin keamanan dari dampak gempa besar di kawasan ini. Pemerintah Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini dan edukasi mitigasi bencana, terutama di daerah pesisir yang rentan.
Di Malita, Davao Occidental, lebih dari 100 siswa dan belasan guru yang tengah mengikuti upacara bendera di hari pertama sekolah setelah libur musim panas harus berlari menyelamatkan diri. Kepala sekolah Rosavel Cachuela mengatakan kegembiraan siswa berubah menjadi trauma. “Beberapa siswa berteriak panik dan menangis, namun sebagian besar tetap duduk tenang sehingga tidak ada yang terluka,” katanya. Sebuah sepeda motor rusak tertimpa gubuk yang ambruk.
Gempa ini menjadi yang terkuat di Filipina sepanjang tahun 2026, menurut Teresito Bacolcol, direktur Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina. Ia memperingatkan warga untuk tidak terburu-buru kembali ke bangunan yang rusak karena ancaman gempa susulan. Dengan rata-rata 20 topan dan badai tropis setiap tahun, Filipina memang menjadi salah satu negara paling rawan bencana di dunia. Pertanyaan yang kini mengemuka: seberapa siap negara-negara di kawasan ini menghadapi gempa besar berikutnya?



