Setahun Setelah Tragedi Air India: Keluarga Korban Masih Berjuang Mengidentifikasi Jenazah
Baca dalam 60 detik
- Keluarga korban kecelakaan Air India di Ahmedabad masih bergulat dengan kesalahan identifikasi jenazah setahun setelah tragedi yang menewaskan 260 orang.
- Proses identifikasi terhambat oleh kerusakan parah pada jenazah dan keterbatasan laboratorium forensik, memicu kritik terhadap kurangnya akuntabilitas otoritas India.
- Kasus ini mendorong pembaruan pedoman identifikasi korban bencana di India, namun keluarga korban menuntut transparansi dan pertanggungjawaban yang lebih besar.

Setahun setelah kecelakaan pesawat Air India yang menewaskan 260 orang di Ahmedabad, keluarga korban masih harus berhadapan dengan kenyataan pahit: jenazah orang yang mereka cintai tercampur dengan jenazah orang lain, bahkan ada yang salah dikirimkan. Miten Patel, yang kehilangan kedua orang tuanya dalam tragedi 12 Juni tahun lalu, harus menunda kremasi ibunya selama sebulan setelah peti mati yang diterimanya ternyata berisi juga sisa-sisa jenazah pria tak dikenal.
Kecelakaan terjadi hanya 32 detik setelah lepas landas, ketika pesawat menabrak permukiman mahasiswa kedokteran dan hancur berkeping-keping di area seluas 37.000 meter persegi. Dari 260 korban, 90% jenazah mengalami luka bakar parah sehingga sidik jari, wajah, dan ciri visual lainnya musnah. Tim penyelamat menghadapi kondisi ekstrem: suhu mencapai 45 derajat Celsius, puing-puing berserakan, dan sabuk pengaman yang masih panas membara.
Proses identifikasi menjadi mimpi buruk. Laboratorium forensik di Gandhinagar kewalahan menangani ribuan sampel DNA yang rusak parah. Otoritas India saat itu lebih fokus pada evakuasi dan rehabilitasi, bukan identifikasi korban. Akibatnya, terjadi percampuran jenazah (commingling) yang baru terungkap setelah pemindaian CT scan di Inggris. Amanda Donaghey, ibu dari Fiongal Greenlaw-Meek, bahkan menerima jenazah seorang perempuan India berusia 70 tahun, sementara jenazah putranya hingga kini belum ditemukan.
Koroner Inggris Fiona Wilcox mengaku kesulitan mengidentifikasi pria tak dikenal yang jenazahnya tercampur dengan ibu Miten. "Kami telah mengirim sidik jari dan DNA ke India, tetapi hingga kini belum ada konfirmasi nama," ujarnya dalam sidang pekan ini. Wilcox menambahkan bahwa membuka penyelidikan kematian hampir setahun setelah kejadian adalah "sangat tidak biasa".
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya sistem identifikasi korban bencana yang andal. Dengan frekuensi bencana alam dan kecelakaan transportasi yang tinggi, Indonesia perlu memastikan laboratorium forensik dan protokol identifikasi berjalan optimal. Pengalaman India menunjukkan bahwa ketergantungan berlebihan pada DNA tanpa dukungan metode lain seperti catatan gigi dapat menimbulkan kemacetan dan kesalahan fatal.
Badan Manajemen Bencana Nasional India (NDMA) telah merevisi pedoman identifikasi korban pada Januari lalu, mengakui bahwa "identifikasi dan manajemen korban bencana belum mendapat perhatian sistematis yang memadai". Namun, pengacara keluarga korban, James Healey-Pratt, menegaskan bahwa "tidak ada satu pun pejabat India yang berwenang menerima tanggung jawab". Menurutnya, transparansi dan akuntabilitas adalah hak mutlak keluarga korban.
Miten Patel masih terus berjuang. Setiap malam, ia menonton video orang tuanya sendirian. "Saya tidak ingin mati dan bertemu mereka di surga, lalu mereka berkata... Beta, kami bangga padamu. Kamu melakukan semua yang bisa kamu lakukan setelah kami pergi," ujarnya lirih. Pertanyaan yang tersisa: akankah otoritas India belajar dari tragedi ini, atau keluarga lain harus mengalami nasib serupa?

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259054/original/094853000_1781441071-VID-20260614-WA0054_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4115359/original/011653100_1659849791-IMG20220807092959.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8258679/original/060323900_1781401081-IMG_20260613_234328.jpg)