Pria 51 Tahun Diamankan di Singapura karena Berkeliaran dengan Batang Besi
Baca dalam 60 detik
- Seorang pria ditangkap di Aljunied, Singapura, setelah mengacungkan batang besi dan memukul pembatas jalan pada dini hari.
- Polisi menemukan barang bukti narkoba dan obat tidur, yang kini diselidiki oleh Badan Narkotika Pusat dan Otoritas Ilmu Kesehatan.
- Insiden ini memicu respons cepat aparat dan menyoroti pentingnya kewaspadaan publik di kawasan perkotaan padat.

Seorang pria berusia 51 tahun diamankan aparat Kepolisian Singapura pada Selasa (10/6) dini hari setelah kedapatan berkeliaran di kawasan Aljunied sambil membawa batang besi dan memukulkannya ke berbagai fasilitas umum. Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 05.15 waktu setempat itu berakhir tanpa korban jiwa, namun memicu respons cepat dari empat mobil patroli yang dikerahkan ke lokasi.
Menurut keterangan polisi, pria tersebut ditangkap dengan tuduhan gangguan ketertiban umum dan dugaan pelanggaran terkait narkotika. Saat digeledah, petugas menemukan perlengkapan yang diduga digunakan untuk mengonsumsi narkoba serta sejumlah pil tidur. Pria itu mengalami luka ringan namun menolak untuk dibawa ke rumah sakit. Kasus dugaan narkoba telah dilimpahkan ke Badan Narkotika Pusat (CNB), sementara pelanggaran terkait pil akan ditangani oleh Otoritas Ilmu Kesehatan (HSA).
Seorang saksi mata bernama Han, yang diwawancarai harian Shin Min Daily News, mengaku tengah melintasi jembatan penyeberangan saat menuju tempat kerja ketika mendengar teriakan dari bawah. โSaya perhatikan lebih saksama, lalu sadar dia memegang batang besi dan menggunakannya untuk memukul pembatas tengah jalan serta aspal,โ ujarnya. Khawatir pria tersebut dapat melukai orang lain, Han segera menghubungi polisi yang tiba dalam waktu dua hingga tiga menit dengan empat mobil patroli. Dalam video yang direkam Han, terlihat beberapa petugas mengepung pria tersebut sebelum akhirnya menyerahkan diri.
Insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya kewaspadaan masyarakat di kawasan perkotaan yang padat seperti Singapura. Meski negara kota itu dikenal dengan tingkat keamanan yang tinggi, aksi individu yang tidak stabil secara mental atau di bawah pengaruh zat terlarang tetap berpotensi mengganggu ketertiban. Respons cepat aparat menunjukkan kesiapsiagaan sistem keamanan publik Singapura dalam menangani situasi darurat.
Bagi Indonesia, kejadian serupa juga kerap terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung. Kasus gangguan jiwa yang berujung pada tindakan anarkis sering kali menjadi sorotan, terutama ketika melibatkan senjata tajam atau benda berbahaya. Perbedaan utama terletak pada kecepatan respons dan koordinasi antarlembaga, yang di Singapura terbilang lebih terstruktur. Di Indonesia, penanganan kasus serupa sering kali terkendala oleh keterbatasan personel dan infrastruktur, meskipun upaya peningkatan kapasitas terus dilakukan.
Penyelidikan lebih lanjut masih berlangsung untuk mengungkap motif pria tersebut serta kemungkinan adanya gangguan mental atau pengaruh narkoba. Otoritas Singapura diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai latar belakang pelaku dan langkah pencegahan ke depan. Pertanyaan yang mengemuka: apakah insiden ini merupakan kasus isolasi atau indikasi adanya pola yang lebih luas terkait penyalahgunaan zat di kalangan warga lanjut usia? Jawabannya akan menentukan strategi intervensi yang tepat.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8259054/original/094853000_1781441071-VID-20260614-WA0054_1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4115359/original/011653100_1659849791-IMG20220807092959.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8258679/original/060323900_1781401081-IMG_20260613_234328.jpg)