Debut Pahit Reggiani: 13 Menit di Lapangan, Kartu Merah Langsung
Baca dalam 60 detik
- Luca Reggiani, bek muda Borussia Dortmund, harus mengakhiri debutnya di timnas senior Italia hanya dalam 13 menit setelah menerima kartu merah langsung.
- Insiden terjadi saat ia menarik baju penyerang Yunani, Anastasios Douvikas, yang dianggap wasit sebagai pelanggaran terakhir di lini pertahanan Italia.
- Kartu merah ini menjadi bagian dari eksperimen besar-besaran pelatih caretaker Silvio Baldini, yang telah memberikan debut kepada 17 pemain dalam dua laga terakhir.

Mimpi buruk menghampiri Luca Reggiani. Bek muda Borussia Dortmund itu harus mengakhiri debutnya di tim nasional senior Italia hanya dalam waktu 13 menit setelah menerima kartu merah langsung dalam laga melawan Yunani, Minggu (17/11).
Reggiani, yang baru genap berusia 18 tahun, masuk pada menit ke-55 menggantikan bek Fiorentina Pietro Comuzzo yang cedera. Namun, pertandingan perdananya bersama Gli Azzurri berakhir lebih cepat dari perkiraan. Ia diusir wasit Yigal Frid setelah menarik baju penyerang Yunani, Anastasios Douvikas, yang hendak mengejar umpan panjang. Meski pelanggaran terjadi di dekat garis tengah, Reggiani dianggap sebagai pemain terakhir di lini belakang Italia, sehingga wasit tanpa ragu mengeluarkan kartu merah.
Momen tersebut sontak menjadi sorotan. Pelatih caretaker Silvio Baldini, yang tengah melakukan regenerasi besar-besaran, langsung memeluk Reggiani hangat saat pemain itu meninggalkan lapangan. Baldini telah memberikan debut kepada 17 pemain dalam dua pertandingan terakhir, menandai era transisi di skuad Italia pasca-kegagalan lolos ke Piala Dunia 2022.
Bagi pengamat sepak bola Italia, insiden ini menjadi cerminan risiko dari kebijakan Baldini yang berani memanggil pemain muda. Reggiani, yang sebelumnya menjadi berita utama sebagai pencetak gol termuda Italia di Bundesliga, kini harus belajar dari pengalaman pahit ini. “Ini bagian dari proses,” kata analis sepak bola Italia, Marco Rossi. “Baldini sedang membangun tim baru, dan kesalahan seperti ini adalah konsekuensi yang harus diterima.”
Di Indonesia, kisah Reggiani bisa menjadi pelajaran bagi para pemain muda yang bercita-cita menembus timnas. Sepak bola Indonesia juga tengah gencar melakukan regenerasi, dengan banyak pemain U-22 yang mulai dilirik untuk tim senior. Pengalaman Reggiani mengingatkan bahwa kesempatan di level tertinggi bisa datang kapan saja, namun juga bisa sirna dalam sekejap akibat satu kesalahan.
Ke depan, Reggiani masih memiliki karier panjang di depannya. Pertanyaannya, apakah ia akan mampu bangkit dari keterpurukan ini dan membuktikan bahwa dirinya layak menjadi pilar timnas Italia di masa depan? Ataukah kartu merah ini akan menjadi noda yang membayangi langkahnya?



