Kisah Claire Emslie: Enam Bulan Setelah Melahirkan, Kembali Perkuat Skotlandia di Kualifikasi Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Claire Emslie kembali bermain untuk timnas Skotlandia hanya enam bulan setelah melahirkan putranya Jamie.
- Ia menjalani operasi caesar dan memulai pemulihan dengan fisioterapi panggul tiga minggu pasca-persalinan.
- Emslie bertekad membawa Skotlandia lolos ke Piala Dunia 2027 di Brasil, sebuah pencapaian yang akan menjadi puncak kariernya.

Claire Emslie, penyerang timnas wanita Skotlandia, membuktikan bahwa batas antara menjadi ibu dan atlet profesional bisa sangat tipis. Hanya enam bulan setelah melahirkan putra pertamanya, Jamie, ia sudah kembali berlaga di lapangan hijau, bahkan turun sebagai starter dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2027 melawan Israel yang berakhir dengan kemenangan telak 6-0.
Perjalanan Emslie kembali ke level kompetitif dimulai dengan momen yang tidak biasa. Saat berolahraga di pusat kebugaran, air ketubannya pecah. Beberapa jam kemudian, ia dan suaminya, Jonny, menyambut kelahiran Jamie yang hadir dua minggu lebih awal dari perkiraan. "Kami menjalani hari biasa—berenang, lalu ke gym—dan beberapa jam kemudian kami sudah memiliki seorang bayi laki-laki," kenang Emslie dalam wawancara dengan BBC Scotland.
Kembalinya Emslie ke timnas Skotlandia menjadi sorotan, terutama karena ia harus melewati masa pemulihan pasca operasi caesar. Tiga minggu setelah melahirkan, ia memulai fisioterapi panggul dan latihan mobilitas secara bertahap. "Pemulihan utama saya adalah menyatukan kembali otot perut. Saya butuh waktu untuk membiarkan tubuh pulih," ujarnya. Dukungan penuh dari klubnya, Angel City FC di Amerika Serikat, menjadi faktor kunci yang memungkinkan ia kembali ke performa puncak dalam waktu singkat.
Kisah Emslie menjadi inspirasi tidak hanya bagi atlet perempuan, tetapi juga bagi para ibu yang ingin kembali mengejar karier setelah melahirkan. Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat, meskipun masih jarang. Beberapa atlet Tanah Air, seperti pebulu tangkis dan atlet angkat besi, telah menunjukkan bahwa menjadi ibu bukanlah akhir dari karier olahraga. Namun, dukungan dari klub dan federasi masih menjadi tantangan utama. Di Amerika Serikat, Angel City FC menyediakan fasilitas fisioterapi dan jadwal latihan yang fleksibel, sebuah model yang bisa diadopsi oleh klub-klub Indonesia untuk mendukung atlet yang menjadi ibu.
Emslie sendiri menekankan bahwa kesuksesannya tidak lepas dari dukungan lingkungan. "Yang saya alami menunjukkan apa yang mungkin terjadi dengan dukungan yang tepat dan kemauan untuk kembali," katanya. Ia juga mengakui bahwa menjadi ibu telah mengubah perspektifnya tentang kehidupan dan sepak bola. "Bermain untuk Skotlandia adalah hal terbaik. Dan melakukannya di Brasil, negara sepak bola, akan luar biasa," ujarnya penuh semangat.
Skotlandia saat ini berada di jalur yang tepat untuk lolos ke Piala Dunia 2027. Mereka akan menghadapi Israel lagi pada pertandingan berikutnya, dan jika mampu mempertahankan performa, tiket ke Brasil akan menjadi kenyataan. Bagi Emslie, perjalanan ini bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang membuktikan bahwa seorang ibu bisa mencapai apa pun. Pertanyaannya, akankah kisahnya mendorong lebih banyak klub dan federasi di Indonesia untuk memberikan dukungan serupa bagi atlet perempuan yang menjadi ibu?



