Shin Nayeong: Bek Serbabisa yang Menembus Timnas Korea Lewat Karier di Amerika Serikat
Baca dalam 60 detik
- Shin Nayeong menjadi pemain Korea Selatan pertama yang mendapat panggilan timnas senior setelah membuktikan diri di luar negeri, bergabung dengan Lexington SC dan Brooklyn FC di USL Super League.
- Bek serbabisa ini membantu Korea Selatan lolos ke Piala Dunia Wanita 2027 melalui kualifikasi Piala Asia AFC, dan kini bersiap tampil di FIFA Series 2026 di Brasil.
- Kisah Shin menginspirasi pesepak bola Asia, termasuk Indonesia, bahwa jalur karier nonkonvensional bisa membuka peluang ke panggung dunia.
Pemain belakang timnas Korea Selatan, Shin Nayeong, membuktikan bahwa jalan menuju tim nasional tidak selalu dimulai dari prestasi di dalam negeri. Ia justru menembus skuad senior setelah menjalani karier di Amerika Serikat, sebuah langkah yang jarang ditempuh pesepak bola wanita Korea sebelumnya.
Shin, yang kini memasuki musim keduanya di Amerika Serikat, bergabung dengan Lexington SC pada 2024 sebelum pindah ke Brooklyn FC di USL Super League. Berposisi utama sebagai bek tengah, ia juga bisa bermain sebagai bek sayap atau gelandang bertahan. Fleksibilitas ini membuatnya menjadi andalan pelatih Shin Sangwoo yang sedang melakukan regenerasi timnas Korea Selatan. Pada Maret lalu, Shin membantu timnya memastikan tiket ke Piala Dunia Wanita 2027 di Brasil melalui kualifikasi Piala Asia AFC.
Menjelang turnamen FIFA Series 2026 di Brasil pada April, Shin mengungkapkan perbedaan signifikan antara sepak bola di Amerika Serikat dan Korea Selatan. "Di Amerika, penekanannya bukan pada penjagaan individu. Empat bek naik dengan agresif dan kompak. Bola panjang menjadi senjata serangan yang efektif. Tim bermain langsung lalu mengejar bola kedua. Di Korea, saya sering diinstruksikan menjaga jarak tetap dari pemain yang saya jaga. Di sini, pelatih menyuruh meninggalkan ruang lalu bereaksi saat bola datang," jelas Shin dalam wawancara dengan FIFA.
Shin mengakui bahwa pengalaman menghadapi Brasil dalam laga uji coba membuka matanya. "Satu kesalahan bisa berubah menjadi gol. Sebagai bek, Anda tidak boleh lengah sedetik pun. Satu kesalahan bisa mengubah segalanya. Untuk bersaing dengan tim sekaliber itu, organisasi pertahanan dan pertahanan individu kami masih perlu ditingkatkan," ujarnya.
Kehidupan di New York juga memberikan perspektif baru bagi Shin. "Orang Amerika sangat serius dengan olahraga. New York sangat padat dan orang-orangnya sangat bergairah. Jika ada acara olahraga besar, seluruh kota seolah hidup. Lalu lintas menjadi luar biasa karena banyak orang menuju stadion," katanya. Shin sering menghabiskan waktu di kawasan DUMBO, Brooklyn, untuk menenangkan pikiran setelah pertandingan.
Keputusan Shin untuk merantau ke Amerika tanpa terlebih dahulu menjadi pemain timnas merupakan langkah berani. "Saya selalu merasa jauh dari timnas. Biasanya, pemain yang pindah ke luar negeri sudah menjadi pemain internasional dengan reputasi mapan. Saya ingin menjadi salah satu pemain pertama yang pergi ke luar negeri tanpa latar belakang itu dan menantang diri sendiri. Saya berharap ini bisa menginspirasi pemain lain," ungkapnya.
Dukungan dari legenda sepak bola Korea, Ji Soyun, menjadi motivasi tambahan. "Dia terus mendorong saya untuk mengambil tantangan dan mengatakan saya mampu sukses. Saat saya muda, dia adalah salah satu pemain yang menginspirasi mimpi saya. Dia telah mengalami momen tertinggi dan terendah dalam karier sepak bola. Itulah mengapa dia bisa melihat hal-hal yang tidak selalu saya lihat sendiri," kata Shin.
Kisah Shin Nayeong menjadi pelajaran berharga bagi pesepak bola Asia, termasuk Indonesia, bahwa jalur karier yang tidak biasa tetap bisa mengantarkan ke panggung dunia. Dengan tekad dan kerja keras, pintu tim nasional bisa terbuka meski harus menempuh jalan yang berbeda.
Ke depan, Shin akan terus mengembangkan kemampuannya di Amerika Serikat sambil memperkuat lini belakang Korea Selatan. Pertanyaannya, akankah semakin banyak pemain Asia yang mengikuti jejaknya untuk berkarier di luar negeri sebelum menembus tim nasional? Jika Shin bisa, bukan tidak mungkin pemain lain pun mampu.



