Lari 2.200 Km Demi Anak-Anak Kanker: Kisah Pensiunan yang Menolak Berhenti
Baca dalam 60 detik
- Lim Shyang Guey, 66 tahun, berlari sejauh 2.200 km melintasi Semenanjung Malaysia untuk menggalang dana kanker anak.
- Perjalanan ini merupakan wujud nyata dari janji mendiang istrinya yang meninggal karena kanker pada 2024.
- Target donasi sebesar RM600.000 diserahkan kepada National Cancer Society Malaysia untuk biaya pengobatan pasien anak.

Di usia yang lazim diisi dengan istirahat dan kebersamaan keluarga, Lim Shyang Guey justru memilih berlari ribuan kilometer. Bukan demi medali emas, melainkan pita emas—simbol kepedulian terhadap kanker anak. Pria 66 tahun asal Penang ini menempuh rute sepanjang 2.200 km dari Johor hingga Perlis, dengan satu misi: mengumpulkan dana sebesar RM600.000 (sekitar Rp2,1 miliar) untuk National Cancer Society Malaysia (NCSM).
Perjalanan ini bukan sekadar tantangan fisik. Enam tahun lalu, Lim dan mendiang istrinya, Goh Joo Lee, berencana berjalan kaki keliling Malaysia setelah pensiun. Namun, Goh didiagnosis kanker dan meninggal pada 2024. “Kami berdua ingin melakukan ini. Sekarang saya melanjutkannya untuknya,” ujar Lim saat tiba di Kuala Lumpur, Minggu (8/6). Foto Goh tergantung di lehernya selama berlari, menjadi pengingat akan janji yang belum terpenuhi.
Inspirasi datang dari buku Grief to Love karya Laurence Carter, yang menceritakan perjalanan 9.000 km melintasi Inggris untuk meningkatkan kesadaran kanker. Lim menghubungi Carter, yang kemudian terbang dari Washington ke Malaysia untuk berlari bersamanya selama empat hari di Johor. “Dia datang enam minggu lalu. Kami berlari bersama. Itu sangat berarti,” kata Lim.
Keputusan Lim untuk berlari, bukan berjalan, didasari efisiensi waktu. Ia menempuh 25–40 km per hari dan optimistis menyelesaikan misinya dalam tiga bulan. Sepanjang perjalanan, ia bertemu banyak orang yang tergerak bergabung. “Beberapa orang ikut berlari bersama saya. Ini menunjukkan kepedulian masih ada,” tambahnya.
Deputi Menteri Kesehatan Malaysia, Datuk Hanifah Hajar Taib, yang hadir dalam acara NCSM, menyatakan bahwa kementerian sedang mencari cara mendekatkan layanan kanker ke rumah pasien. “Kami ingin mengurangi beban keluarga yang harus menempuh perjalanan jauh untuk berobat,” ujarnya. Hal ini relevan bagi Indonesia, di mana akses pengobatan kanker anak masih terpusat di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Menurut data Globocan 2022, kasus kanker anak di Indonesia mencapai sekitar 11.000 per tahun, dengan angka kesembuhan yang masih rendah akibat keterlambatan diagnosis dan biaya tinggi.
Kisah Lim mengingatkan bahwa aksi individu bisa memicu perubahan sistemik. Di Indonesia, gerakan serupa seperti “Lari untuk Kanker” oleh komunitas lari dan Yayasan Kanker Indonesia mulai bermunculan. Namun, tantangan pendanaan dan koordinasi masih besar. Pertanyaannya, mampukah aksi heroik seperti ini mendorong pemerintah dan swasta untuk lebih serius menangani kanker anak?



